Sabtu, 24 Maret 2012

ANALISIS DEMOGRAFI KABUPATEN JOMBANG


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan manusia dan pada dasarnya pendidikan merupakan suatu investasi dalam modal manusia, karena pada hakekatnya adalah pengorbanan di masa kini untuk mendapatkan keuntungan di masa depan. Sedangkan pendidikan itu sendiri harus melibatkan suatu bagian waktu yang tentu saja mengurangi kesempatan untuk menghasilkan yang lain. Karena itu tidaklah berlebihan bahwa pendidikan harus menjadi sasaran utama dalam pembangunan. Upaya pemerintah dalam meningkatkan pendidikan masyarakat antara lain diwujudkan dengan wajib belajar 9  tahun, namun pada kabupaten jombang telah dicanangkan wajib belajar 12 tahun, serta dengan adanya peningkatan anggaran pendapatan belanja negara untuk sektor pendidikan.
Wilayah kabupten Jombang mempunyai letak geografis antara 5.200 –5.300 Bujur Timur dan antara 7.20’ dan 7.45’ lintang selatan dengan luas wilayah 115.950 Ha atau 2,4% luas Propinsi Jawa Timur. Luas wilayah kabupaten 115.950 Ha atau 1.195,5 Km2. Terletak membentang antara 7.20’ dan 7.45’. Lintang Selatan 5.200 – 5.300 Bujur Timur. Kabupaten Jombang berbatasan langsung dengan sebelah utara  Kabupaten Lamongan, sebelah selatan Kabupaten Kediri, sebelah timur Kabupaten Mojokerto, sebelah barat Kabupaten Nganjuk. Administrasi Pemerintahan terdiri dari 21 Kecamatan dan 301 desa, 5 kelurahan. Kecamatan yang terluas adalah Kecamatan Kabuh (13.233 Ha) dan yang terkecil Kecamatan Ngusikan (34,90 Ha).Jumlah penduduk Kabupaten Jombang pada tahun 2004 adalah 1.160.434 jiwa terdiri dari 572.874 Laki-laki dan 578.560 Perempuan, dengan perincian jumlah penduduk WNI sebesar 1.160.405 jiwa yang terdiri dari 572.866 laki-laki dan 587.539 perempuan, sedangkan jumlah penduduk WNA sebesar 29 jiwa yang terdiri dari 8 laki-laki dan 21 perempuan. Pada tahun 2005 adalah 1.163.420 jiwa terdiri dari 574.221 Laki-laki dan 589.199 Perempuan, dengan perincian jumlah penduduk WNI sebesar 1.163.396 jiwa yang terdiri dari 574.216 laki-laki dan 589.180 perempuan, sedangkan jumlah penduduk WNA sebesar 24 jiwa yang terdiri dari 5 laki-laki dan 19 perempuan.Pada tahun 2006 adalah 1.168.097 jiwa terdiri dari 577.094 Laki-laki dan 591.003 Perempuan, dengan perincian jumlah penduduk WNI sebesar 1.168.074 jiwa yang terdiri dari 577.088 laki-laki dan 590.986 perempuan, sedangkan jumlah penduduk WNA sebesar 23 jiwa yang terdiri dari 6 laki-laki dan 17 perempuan. Pada tahun 2007 adalah 1.174.059 jiwa terdiri dari 581.544 Laki-laki dan 592.512 Perempuan. Pada tahun 2008 adalah 1.343.379 jiwa terdiri dari 673.262 Laki-laki dan 670.117 Perempuan. Pada tahun 2009 adalah 1.348.199 jiwa terdiri dari 675.584 Laki-laki dan 672.615 Perempuan, dengan perincian jumlah penduduk WNI sebesar 1.348.178 jiwa yang terdiri dari 675.578 laki-laki dan 672.600 perempuan, sedangkan jumlah WNA sebesar 21 jiwa yang terdiri dari 6 laki-laki dan 15 perempuan. Pada tahun 2010 adalah 1.201.557 jiwa terdiri dari 597.219 Laki-laki dan 604.338 Perempuan ( Menurut Hasil Sensus 2010 BPS ).Penduduk terbesar terdapat di kecamatan Jombang (148.494 jiwa), sedangkan terkecil di Kecamatan Ngusikan ( 22.958 jiwa) pada tahun 2009 Pertumbuhan penduduk tahun 2007 s/d 2009 meningkat rata-rata 11,01 % pertahun.

1.2  Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari laporan ini antara lain.
1.      Bagaimana konsep pendidikan?
2.      Bagaimana konsep perencanaan pengembangan pendidikan?
3.      Bagaimana kondisi empiris pendidikan Kabupaten Jombang?
4.      Bagaimana kondisi geografis Kabupaten Jombang?
5.      Bagaimana proyeksi jumlah anak usia Sekolah Menengah Atas tahun 2000-2030?
6.      Bagaimana proyeksi guru Sekolah Menengah Atas tahun 2000-2030?
7.      Bagaimana proyeksi kebutuhan guru Sekolah Menengah Atas 2000-2030?
8.      Bagaimana proyeksi kebutuhan gedung Sekolah Menengah Atas tahun 2000-2030?



1.3  Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan dari penulisan laporan ini adalah.
1.      Menjelaskan konsep pendidikan.
2.      Menjelaskan konsep perencanaan pendidikan.
3.      Menggambarkan kondisi empiris pendidikan Kabupaten Jombang.
4.      Menggambarkan kondisi geografis Kabupaten Jombang.
5.      Menjelaskan proyeksi jumlah anak usia Sekolah Menengah Atas tahun 2000-2030.
6.      Menjelaskan proyeksi kebutuhan guru Sekolah Menengah Atas tahun 2000-2030.
7.      Menjelaskan proyeksi kebutuhan gedung Sekolah Menengah Atas tahun 2000-2030.

1.4  Manfaat
Manfaat penulisan bagi penyusun
1.      Menambah pengetahuan mengenai perencanaan pendidikan Sekolah Menengah Atas di kabupaten Jombang
2.      Mendapatkan tambahan pengetahuan dari para pembaca apabila laporan ini dipublikasikan.
Manfaat penulisan bagi pembaca
1.      Menambah pengetahuan mengenai perencanaan pendidikan Sekolah Menengah Atas di kabupaten Jombang
2.      Dapat ikut serta mewujudkan pengembangan perencanaan pendidikan Sekolah Menengah Atas dengan pengetahuan yang telah didapatkan.
Manfaat penulisan bagi pemerintah
1.      Sebagai data acuan untuk melakukan perencanaan pengembangan pendidikan Sekolah Menengah Atas yang ada di kabupaten Jombang.
2.      Mengetahui keadaan empiris pendidikan Sekolah Menengah Atas yang ada di kabupaten Jombang


BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1    Landasan Teori
Dalam mengartikan pendidikan, setiap personal mempunyai arti sendiri dalam mengartikan pendidikan. Berikut beberapa contoh arti pendidikan yang ada. Menurut Kamus Bahasa Indonesia, 1991:232, Pendidikan berasal dari kata "didik", Lalu kata ini mendapat awalan kata "me" sehingga menjadi "mendidik" artinya memelihara dan memberi latihan. Dalam memelihara dan memberi latihan diperlukan adanya ajaran, tuntutan dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Menurut bahasa Yunani : pendidikan berasal dari kata "Pedagogi" yaitu kata "paid" artinya "anak" sedangkan "agogos" yang artinya membimbing "sehingga "pedagogi" dapat di artikan sebagai "ilmu dan seni mengajar anak". Menurut UU No.20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Wikipedia,  Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Dari pernyataan diatas dapat di tarik kesimpulan bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran atau pelatihan agar peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi dirinya supaya memiliki kekuatan spiritual keagamaan, emosional, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Unsur-unsur pendidikan melibatkan banyak hal yaitu Subjek yang dibimbing (peserta didik), Orang yang membimbing (pendidik), Interaksi antara peserta didik dengan pendidik (interaksi edukatif), Ke arah mana bimbingan ditujukan (tujuan pendidikan), Pengaruh yang diberikan dalam bimbingan (materi pendidikan), Cara yang digunakan dalam bimbingan (alat dan metode), Tempat dimana peristiwa bimbingan berlangsung (lingkungan pendidikan).
Dalam laporan ini objek unsur pendidikan yang akan dibahas berkenaan dengan perencanaan pengembangan pendidikan ialah peserta didik, pendidik, dan tempat / lingkungan pendidikan. Peserta didik berstatus sebagai subjek didik. Pandangan modern cenderung menyebutkan demikian oleh karena peserta didik adalah subjek atau pribadi yang otonom, yang ingin diakui keberadaannya. Ciri khas peserta didik yang perlu dipahami oleh pendidik ialah Individu yang memiliki potensi fisik dan psikis yang khas, sehingga merupakan insan yang unik, Individu yang sedang berkembang, Individu yang membutuhkan bimbingan individual dan perlakuan manusiawi, individu yang memiliki kemampuan untuk mandiri. Yang dimaksud pendidik adalah orang yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan dengan sasaran peserta didik. Peserta didik mengalami pendidikannya dalam tiga lingkungan yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masayarakat. Sebab itu yang bertanggung jawab terhadap pendidikan ialah orang tua, guru, pemimpin program pembelajaran, latihan, dan masyarakat.
Berkaitan dengan perencanaan pendidikan. Beberapa definisi mengenai perencanaan antara lain:
-       Seperangkat tindakan untuk memecahkan berbagai permasalahan, khususnya masalah social dan ekonomi pada satu periode rencana, yang berorientasi pada horizon waktu ‘yang akan datang’, pada jenis dan tingkatan perencanaan tertentu, di masa yang akan datang (Alden, 1974: 1-2),
-       Cara berpikir tentang masalah–masalah sosial dan ekonomi, yang berorientasi pada waktu yang akan datang, terkonsentrasi pada suatu tujuan dan keputusan bersama, serta berusaha untuk mewujudkan program dan keputusan bersama (Friedmann,1964) • Sebuah proses untuk pilihan yang logis (Davidoff,1962 in Faludi, 1983: 11)
-       Sebuah proses untuk mengarahkan aktivitas manusia dan kekuatan alam dengan mengacu pada kondisi masa depan yang diinginkan (Branch, 1998: 2)
-       Suatu lingkaran proses yang berulang dari serangkaian tahapan-tahapan yang logis (Meise and Volwahsen, 1980: 3-5)
2.2    Perencanaan
Perencanaan bukanlah merupakan sebuah proses yang terjadi secara otomatis. Dan telah cukup banyak model dikembangkan untuk mendapatkan sebuah perencanaan yang efektif. Perencanaan pendidikan pada hakikatnya tidak lain daripada proses pemilihan yang sistematis, analisis yang rasional mengenai apa yang akan dilakukan, bagaimana melakukannya, siapa pelaksananya dan kapan suatu kegiatan dilaksanakan dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan lebih efektif dan efisien sehingga proses pendidikan itu dapat memenuhi tuntutan / kebutuhan masyarakat. (Burhanuddin, Analisis Administrasi Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan,1994). Terdapat empat aspek dalam perencanaan pendidikan, antara lain Berhubungan dengan masa depan, seperangkat kegiatan, Proses yang sistematis, dan tujuan tertentu. Perencanaan sendiri bertujuan untuk menjadi jembatan antara teori dengan praktek, dan digunakan untuk mengontrol masa depan melalui apa-apa yang dilakukan pada masa ini. Perencanaan yang baik hanya dapat diperoleh jika bisa memanfaatkan informasi sebanyak mungkin. Karena itu, sudah saatnya perencanaan pendidikan dilakukan berdasarkan data-data yang menunjang perbaikan dan bukan sekadar keinginan tertentu. Peta obyektif pendidikan ini harus dilihat dari aspek sosial, agama, dan tradisi setempat, sehingga akan sangat membantu perencanaan pendidikan yang baik.
Berdasarkan analisis data sensus penduduk oleh Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa penduduk kabupaten Jombang mengalami perumbuhan sebesar 3,07 % pertahun. Pertumbuhan penduduk akan membawa permasalahan baru, dan untuk mempertinggi tingkat kehidupannya memerlukan sarana pendidikan yang memadai.  Misalnya mengenai sarana fisik seperti gedung sekolah juga harus diperhatikan karena sebagian besar gedung sekolah yang keadaannya sangat memprihatinkan adalah gedung Sekolah Dasar. Selain kualitas dari gedung tersebut juga harus diperhatikan mengenai pembangunan kuantitas gedung Sekolah dasar seiring dengan peningkatan jumlah penduduk.
Tentang sarana pendidikan, selain sarana fisik seperti gedung sekolah dan sebagainya, juga sangat penting ialah tenaga guru. Keluhan tentang kurangnya mutu pendidikan memang diakui, dan ini dikarenakan berbagai sebab termasuk diantaranya jumlah guru. Oleh karena itu peningkatan mutu pendidikan di sekolah harus dimulai dan dibarengi dengan peningkatan kualitas tenaga pengajar. Pendidikan tenaga guru harus menyeleksi menurut kemampuan, bakat, dan dedikasi calon guru agar mereka dapat mengembangkan kemampuan mendidik mereka dengan sebaik-baiknya. Pada tahun 2010 Kabupaten Jombang memiliki jumlah guru sebesar 22127, pembagiannya adalah 2201 untuk guru TK, 8941 untuk guru SD, 5714 untuk guru SMP dan 5271 untuk guru SMA.

Data Pokok Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang
Tahun 2010-2011
TAMAN KANAK-KANAK
TK/RA
Negeri
Swasta
Jumlah
Lembaga
3 / 0
354 / 267
           621
Kelas
15/ 0
714 / 646
        1.186
Murid
335 / 0
18161/16147
      36.599
Guru 
21 / 0
1168 / 1083
        2.201
Sumber: Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang
SEKOLAH  DASAR

Negeri
Swasta
Jumlah
Lembaga
             536
              22
                  558
Kelas
          3.328
            153
               3.481
Murid
        79.193
         3.064
             82.257
Murid  7 - 12  th
        71.485
         2.706
             74.191
Guru 
          5.193
            328
               5.521
Ruang Kelas
          3.304
            294
               3.598
Lulusan
        13.038
            355
             13.393
Sumber: Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang

SEKOLAH LUAR BIASA




TKLB
Negeri
Swasta
Jumlah
Lembaga

3
3
Kelas

14
14
Murid

47
47
Guru 

7
7
SDLB
Negeri
Swasta
Jumlah
Lembaga
2
9
11
Kelas
32
97
129
Murid
76
319
395
Guru 
28
41
69
SMPLB
Negeri
Swasta
Jumlah
Lembaga
0
7
7
Kelas
0
26
26
Murid
0
64
64
Guru 
0
12
12
SMALB
Negeri
Swasta
Jumlah
Lembaga
0
3
3
Kelas
0
15
15
Murid
0
48
48
Guru 
0
9
9
Sumber: Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang
SLTP NEGERI/SWASTA


Negeri
Swasta
Jumlah
Lembaga

              47
              64
            111
Kelas

            795
            330
         1.125
Murid

       28.494
         9.860
       38.354
Murid  13 - 15  th

       22.416
         7.628
       30.044
Guru 

         1.752
         1.080
         2.832
Ruang Kelas

            779
            366
         1.145
Lulusan

         8.993
         3.240
       12.233
Sumber: Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang

MADARASAH IBTIDAIYAH

Negeri
Swasta
Jumlah
Lembaga
                 5
            256
                  261
Kelas
               72
         1.818
               1.890
Murid
          2.414
       40.652
             43.066
Murid  7 - 12  th
          2.200
       36.370
             38.570
Guru 
             153
         3.358
               3.511
Ruang Kelas
               72
         1.636
               1.708
Lulusan
             350
         6.211
               6.561
Sumber: Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang

SMU  NEGERI  /  SWASTA


Negeri
Swasta
Jumlah
Lembaga

              12
              36
              48
Kelas

            218
            315
            533
Murid

         7.137
         9.409
       16.546
Murid  16 - 18  th

         5.025
         6.438
       11.463
Guru 

            602
         1.008
         1.610
Ruang Kelas

            204
            274
            478
Lulusan

         2.263
         2.898
         5.161
Sumber: Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang

SMK  NEGERI / SWASTA


Negeri
Swasta
Jumlah
Lembaga

                7
              49
              56
Kelas

            201
            433
            634
Murid

         7.200
       16.165
       23.365
Murid  16 - 18  th

         5.266
       12.934
       18.200
Guru 

            495
         1.293
         1.788
Ruang Kelas

            137
            389
            526
Lulusan

         1.759
         4.685
         6.444
Sumber: Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang
MTs  NEGERI  /  SWASTA


Negeri
Swasta
Jumlah
Lembaga

              17
            106
            123
Kelas

            276
            518
            794
Murid

       10.391
       16.352
       26.743
Murid  13 - 15  th

         9.194
       12.316
       21.510
Guru 

            754
         2.100
         2.854
Ruang Kelas

            281
            537
            818
Lulusan

         3.012
         5.324
         8.336
Sumber: Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang
MA Negeri/Swasta


Negeri
Swasta
Jumlah
Lembaga

10
64
              74
Kelas

169
338
            507
Murid

5.842
8.863
       14.705
Murid  16 - 18  th

4.380
6.258
       10.638
Guru 

511
1.415
         1.926
Ruang Kelas

131
326
            457
Lulusan

1.712
2501
         4.213
Sumber: Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang
Dari data tahun 2010-2011 diatas menunjukkan bahwa jumlah siswa dari Taman Kanak-kanak sampai Sekolah Menengah Atas termasuk Madrasah sebesar 486805 siswa, jumlah sekolah dari Taman Kanak-kanak sampai Sekolah Menengah Atas termasuk Madrasah sebesar 1876, jumlah tenaga pendidik Taman Kanak-kanak sampai Sekolah Menengah Atas termasuk Madrasah sebesar 19508.

2.3    Landasan Empiris
Propinsi Jawa Timur dengan jumlah penduduk yang padat memerlukan pembangunan yang berkelanjutan. Namun tingginya angka buta huruf, serta banyaknya anak yang tidak mengenyam bangku sekolah seakan menambah kesuliatan dalam hal pembangunan itu sendiri.
Jumlah penduduk Jawa Timur menurut hasil sensus penduduk yaitu 14.210.471 jiwa merupakan jumlah yang sangat besar. Selain itu sebagian besar dari jumlah tersebut merupakan penduduka pada usia muda. Kondisi demografi yang demikian menunjukkan bahwa potensi sumber daya manusia seharusnya bisa dimanfaatkan secara maksimal. Namun kenyataannya masih tingginya angka pengangguran, serta angka buta huruf yang tidak juga turun menunjukkan bahwa pendidikan masih belum terlalu besar peranannya dalam pembangunan.











BAB III
METODE PELAKSANAAN

3.1 Rancangan / Pendekatan
Rancangan pelaksanaan meliputi proses pengumpulan data, analisis data yang terkumpul, dan pelaporan hasil penelitian. Dalam hal ini penelitian dengan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Rancangan atau desain penelitian dalam arti sempit dimaknai sebagai suatu proses pengumpulan dan analisis penelitian. Dalam arti luas rancangan penelitian meliputi proses perencanaan dan pelaksanaan penlitian. Metode deskripsi adalah suatu metode dalam penelitian status kelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang.
Whitney (1960) berpendapat, metode deskriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Penelitian deskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat, serta tata cara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu, termasuk tentang hubungan, kegiatan-kegiatan, sikap-sikap, pandangan-pandangan serta proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena.
Dalam melaksanakan pendekatan deskripif, maka langkah-langkah umum dari laporan ini adalah sebagai berikut:
-          Memilih dan merumuskan masalah yang menghendaki konsepsi ada kegunaan masalah tersebut serta dapat diselidiki dengan sumber yang ada.
-          Menentukan tujuan dari penelitian yang akan dikerjakan. Tujuan dari penelitian harus konsisten dengan rumusan dan definisi dari masalah.
-          Menelusuri sumber-sumber kepustakaan yang ada hubungannya dengan masalah yang ingin dipecahkan. Sumber-sumber yang digunakan dalam laporan ini berasal dari data sensus penduduk tahun 2000 kabupaten Jombang, data-data dari Dinas Pendidikan Nasional dan Departemen Agama kabupaten Jombang.
-          Merumuskan hipotesis-hipotesis yang ingin diuji baik secara eksplisit maupun implisit.
-          Melakukan kerja lapangan untuk mengumpulkan data, gunakan teknik pengumpulan data yang cocok untuk penelitian.
-          Membuat tabulasi serta analisis statistik dilakukan terhadap data yang telah dikumpulkan.
-          Memberikan interpretasi dari hasil dalam hubungannya dengan kondisi sosial yang ingin diselidiki serta dari data yang diperoleh dan referensi khas terhadap masalah yang ingin dipecahkan.
-          Mengadakan generalisasi serta deduksi dari penemuan serta hipotesis-hipotesis yang ingin diuji. Berikan rekomendasi-rekomendasi untuk kebijakan yang dapat ditarik dari penelitian.
-          Membuat laporan penelitian dengan cara ilmiah.
Pada bidang ilmu yang telah mempunyai teori-teori yang kuat, maka perlu dirumuskan kerangka teori atau kerangka konseptual yang kemudian diturunkan dalam bentuk hipotesis-hipotesis untuk diverivikasikan. Bagi ilmu sosial yang telah berkembang baik, maka kerangka analisis dapat dijabarkan dalam bentuk-bentuk model matematika. Dalam laporan ini kerangka analisis dijabarkan dengan model matematika atau dengan perhitungan rumus.

3.2 Populasi / Objek Sasaran
Objek sasaran dari laporan ini adalah anak usia Sekolah Menengah Atas, Guru Sekolah Menengah Atas, dan Gedung Sekolah Menengah Atas. Anak usia Sekolah Dasar ialah anak yang berusia 16-18 tahun, data populasi diperoleh dari data sensus penduduk kabupaten Jombang tahun 2000 yang telah diolah. Sama halnya dengan proyeki dari ketiga objek sasaran dari laporan ini diperoleh dengan mengolah data dari sensus penduduk. Dari data – data yang ada diolah dan dianalisis hingga mendapatkan proyeksi anak usia Sekolah Menengah Atas, proyeksi kebutuhan Guru dan  Proyeksi kebutuhan gedung Sekolah Menengah Atas hingga tahun 2030.

3.3 Pengumpulan Data
Pengumpulan data diambil dari berbagai data yang telah ada dan kemudian di olah. Untuk makalah ini data yang digunakan ialah data sensus penduduk tahun 2000 yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik dan data – data pendukung yang diambil dari Dinas Pendidikan Nasional kabupaten Jombang dan Departemen Agama kabupaten Jombang.

3.3.1 Evaluasi Data
Evaluasi data merupakan suatu cara yang digunakan untuk mengetahui berapa besar kesalahan akibat adanya galat. Galat atau kesalahan pencacahan (coverage errors) timbul karena beberapa orang luput dari sensus tanpa dapat dihindari, misalnya gelandangan, sedang berpergian, atau over look out oleh pencacah/pewawancara. Galat juga dapat terjadi akibat kegagalan dalam melaporkan atau mencacat umur dari penduduk yang dihitung dalam sensus atau karena umur yang dilaporkan salah. Oleh karena itu untuk mengetahui seberapa besar kesalahan tersebut perlu diadakan evlauasi terhadap distribusi umur sebelum digunakan dalm perhitungan untuk dasar suatu kebijaksanaan. Untuk mengadakan evaluasi terhadap umur, serta perapiaanya, sebelum data digunakan dalam perhitungan proyeksi penduduk atau ukuran demografi yang lain ad beberapa metode evaluasi yaitu:
a.       Index gabungan (Joint Score Index)
b.      Mayers Index
c.       Grafik Piramida penduduk
d.      Survey Antar Sensus
e.       Distribusi Frekuensi

Untuk melakukan perhitungan indeks gabungan maka terlebih dahulu perlu dilakukan perhitungan:
1.      Ratio Sex (RS)
2.      Ratio umur penduduk laki-laki maupun perempuan (RUL/RUP)
3.      Index Ratio Sex (IRS)
4.      Index Ratio umur penduduk laki-laki maupun perempuan
5.      Indeks Gabungan
Joint Score Index (Indeks Gabungan
Salah satu metode yang digunakan dalam evaluasi data yaitu Joint Score Index (Indeks Gabungan). Cara ini dilakukan agar perbedaan Ratio Sex, antara rasio umur penduduk laki – laki dan perempuan tidak begitu besar sehingga diharapkan jumlah penduduk pada umur tertentu tidak akan besar perbedaannya dengan jumlah penduduk pada umur berdekatan sehingga perbedaan ratio umur penduduk laki – laki maupun perempuan pada tiap – tiap golongan umur adalah kecil.
Data yang diperlukan dalam perhitungan Joint Score Indeks adalah distribusi penduduk menurut umur dan jenis kelamin dengan interval umur 5 tahun. Sedangkan tahap perhitungannya adalah sebagai berikut, menghitung Ratio Sex (RS), menghitung Ratio Umur Penduduk Laki-Laki maupun Perempuan (RUL/RUP), menghitung Indeks Ratio Sex (IRS), menghitung Indeks Ratio Umur Penduduk Laki-Laki maupun Perempuan, menghitung Indeks Gabungan. Metode perhitungan yang dipakai adalah dengan menggunakan mitode kolom yaitu, kolom (1) merupakan distribusi umur dengan interval 5 tahun, kolom (2) jumlah penduduk laki-laki, kolom (3) jumlah penduduk perempuan, kolom (4) adalah resiko sex antara penduduk laki-laki dengan perempuan, kolom (5) merupakan selisih rasio sex dari umur yang berdekatan, kolom (6) adalah rasio umur penduduk laki-laki dengan umur yang berdekatan, kolom (7) merupakan selisih rasio umur dengan bilangan konstanta K yaitu 100, untuk penduduk laki-laki, kolom (8) adalah rasio umur penduduk perempuan dengan umur yang berdekatan, kolom (9) merupakan selisih rasio umur dengan bilangan konstanta K yaitu 100, untuk penduduk perempuan.
Kabupaten Jombang daerah perkotaan dan pedesaan memiliki Joint Score Index (JSI)34.65. Ukuran JSI untuk Kab. Jombang daerah perkotaan dan pedesaan tersebut termasuk jelek bagi perencaan pembangunan daerah setempat.

·   Mayers Index
Setelah dihitung besarnya nilai index Gabungan perlu juga diketahui apakah ada semacam ruangan bahwa penduduk lebih cenderung memilih angka-angka akhir tertentu di dalam memberikan jawaban mengenai umur. Angka-angka akhir yang mana disenangui oleh penduduk seperti halnya umur untuk akhir : 0,1,2,3,4,5,6,7,8,9. Untuk mengetahui pola kecenderungan angka akhir yang disenangi dapat dihitung dengan Index Mayers’(The Methods and matherials of Demography, 1973 : 26-208) yaitu suatu angka dapat memperlihatkan besarnya kesalahan dalam pelaporan serta pencatatan umur penduduk.
·   Grafik Piramida Penduduk
Pembuatan grafik piramida penduduk dengan interval satu tahun akan memudahkan untuk mengetahui perbedaan jumlah penduduk pada umur dengan angka-angka akhir tertentu.
·   Survey Antar Sensus
Metode Survey antar sensus sangat baik untuk melihat perbandingan jumlah penduduk dalam jangka waktu dua sensus yang pada umumnya dilakukan tiap 10 tahun sekali untuk Indonesia.
·   Distribusi Frekuensi
Distribusi frekuensi dipergunakan untuk menggambarkan profil penduduk menurut karakteristik tertentu,misalnya: umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, agama dan kewarganegaraan
3.4 Level of Mortality
Level of Mortality adalah suatu cara yang digunakan untuk menghitung data-data demografi, misalnya, data untuk perapian penduduk, proyeksi penduduk. Ada 2 metode yang digunakan dalam perhitungan Level of Mortality, yaitu metode Brass dan metode Sullivan.
a.       Metode Brass
Metode  ini memerlukan data jumlah penduduk wanita pada usia produktif, jumlah anak yang dilahirkan hidup dalam pengolongan umur, jumlah anak yang masih hidup dalam pengolongan umur. Cara perhitungan metode Brass adalah, menghitung rata-rata jumlah anak lahir hidup (ALH) serta anak masih hidup (AMH) pada tiap golongan umur, menghitung proporsi wanita yang pernah kawin tiap golongan umur, menghitung proporsi rata-rata anak meninggal
I = AMH/ALH
menghitung besarnya nilai faktor pengali yaitu
P1/P2
 jika P1/P2 dapat diketahui tinggal menghitung faktor pengali dimana harganya sering tidak tepat sehingga memerlukan interpolasi, merapikan proporsi anak yang meninggal dengan faktor pengali, tiap-tiap kelompok tersebut dihitung anak yang masih hidup, menghitung besarnya Level of Mortality dengan cara interpolasi. Metode ini memiliki beberapa kelemhan yaitu hasil perhitungan yang diperoleh kadang tidak akurat, sehingga sering terjadi kesalahan pada perhitungan tahap yang selanjutnya.
b.      Metode Sullivan
Metode ini lebih sederhana daripada metode Brass. Tingkat keakuratan metode ini lebih tinggi apabila dibandingkan metode Brass.Cara perhitungan Metode Sullivan lebih sederhana daripada mitode Brass yaitu, menggunakan persaman regresi
q/D = A+B (P2/P3)
 unutk menghitung besarnya Level of Mortality menggunakan rumus
x = I0 (1-q).
 Dari Perhitungan Level of Mortality Kab. Jombang daerah perkotan dan pedesaan diperoleh level 22. Data ini yang akan digunakan untuk perhitungan selanjutnya.

3.5 Perapian Data (Smoothing Data)
Setelah data dievaluasi, maka dapat diketahui seberapa besar kesalahannya, walaupun belum dapat diketahui secara pasti letak kesalahannya. Perapian data perlu dilakukan untuk mengurangi bahkan kalau mungkin untuk menghilangkan dari kesalahan – kesalahan sebelum data digunakan dalam perhitungan ukuran – ukuran Demografi. Terdapat dua metode dalam perapian data, yaitu:
 Pertama, Metode Graduasi. Metode ini digunakan untuk merapikan data distribusi umur dengan interval lima tahunan dengan memperhatikan mortalitas daerah bersangkutan. Pada prinsipnya, di dalam perapian penduduk dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu:
a.       Perapian penduduk golongan umur 15 – 19 tahun sampai 65 – 69 tahun. Untuk   perapian penduduk kelompok ini cara perhitungannya baik laki – laki maupun perempuan menggunakan smothing of recorder age distribution.
b.      Perapian penduduk golongan umur 0 – 4, 5 – 9 dan 10 – 14 tahun. Untuk ini kita mencari jumlah kelahiran bayi perempuan yaitu dengan mengalikan tingkat fertilitas dengan penduduk perempuan yang ditimbang, kemudian dengan memperhatikan tingkat mortalitas, akan diketahui jumlah penduduk perempuan setelah perapian. Untuk penduduk laki – laki, digunakan rumus:
Rumus = Lx (M) x 1,05 x Jumlah perempuan tahun tersebut            
                       Lx (F)
c.       Perapian penduduk umur 70 – 74 dan 75+. Untuk ini terlebih dahulu mencari CGR   (R), kemudian R dipakai sebagai dasar pencarian prosentase penduduk golongan ini terhadap jumlah penduduk keseluruhan.
Perapian pertama ini kemudian hasilnya dirapikan kembali kedua kalinya, atau dikenal dengan istilah perapian kedua. Pada perapian kedua, jumlah penduduk hasil perapian II harus sama dengan jumlah penduduk sebelum dirapikan.
1/16 (-W-2+4W-1+10W0+4W1-W2)

Tahap perhitungan pada perapian penduduk adalah, menghitung tingkat mortalitas dengan metode Brass dan Sullivan (Level of Mortality), merapikan data komposisi penduduk dari golongan umur 10-69 dengan rumus               

Menghitung proyeksi penduduk (Level of Mortality) dengan penduduk perempuan ditimbang, menghitung tingkat fertilitas (Level of fertility) dengan penduduk perempuan ditimbang, menghitung fertilitas dengan survival ratio diman hasil dari perhitungan tersebut digunakan untuk merapikan data golongan umur 0-4, 5-9, dan 10-14 untuk penduduk perempuan dan laki-laki,merapikan data komposisi penduduk golongan umur 70-74 tahun dan 75 tahun + dengan metode penduduk stabil.
Kedua, Metode Graduate Reorientation. Digunakan untuk merpikan data dengan memecah golongan umur tertentu kemudian dikelompokkan kembali seperti pada semula,tanpa memperhatikan tingkat mortalitas seperti pada metode sebelumnya. Dalam metode ini kelompok umur yang berakhir dengan angka 0 dan 5 diletakkan ditengah-tengah masing-masimg kelompok sesuai dengan pola kecenderungan angak akhir yang memilih kelompok umur.
Proyeksi Penduduk
Setelah data dirapikan sehingga dapat mengurangi atau meniadakan kesalahan yang ada, maka data tersebut dapat digunakan untuk berbagai analisis demografi yang salah satu diantaranya adalah proyeksi penduduk. Tahun dasar yang digunakan adalah tahun 2000 yang diproyeksikan dengan interval waktu 5 tahun yaitu 2000 – 2005 – 2010 – 2015 – 2020 – 2025 – 2030.
Proyeksi penduduk yang digunakan hanya menggunakan metode komponen, metode ini hanya melibatkan satu komponen demografi saja yaitu fertilitas. Asumsi fertilitas yang digunakan diantaranya:
1.      Diasumsikan bahwa TFR pada tahun 2030 turun 50% dari sebelum program KB dilaksanakan di Indonesia.
2.      Diasumsikan bahwa penurunan fertilitas lebih lambat, hanya sekitar separuh dari asumsi yang pertama yakni 25% dari sebelum program KB dilaksanakan di Indonesia sampai dengan 2030.
3.      Diasumsikan bahwa fertilitas tidak mengalami penurunan meskipun KB dilaksanakan atau tidak ada program KB.
Proyeksi penduduk yang didasarkan pada asumsi fertilitas pertama disebut proyeksi penduduk varian rendah, yang didasarkan pada asumsi fertilitas kedua disebut proyeksi penduduk varian tinggi, sedangkan yang didasarkan pada asumsi ketiga disebut varian sangat tinggi. Di dalam proyeksi penduduk terdapat banyak langkah yang harus ditempuh, antara lain:
1.      Mencari tingkat kelahiran bayi wanita menurut umur.
2.      Mencari tingkat kelahiran menurut umur (ASBR) dengan anggapan sex ratio pada saat kelahiran 1,05.
3.      Memproyeksikan ASBR mulai tahun 2000 – 2030 dengan asumsi ASBR turun 50%, 25%, dan tetap.
4.      Memproyeksikan penduduk umur 0-4 s/d 75+ dengan metode reserve survival ratio laki-laki dan perempuan mulai tahun 2000 – 2030.
5.      Menghitung estimasi jumlah kelahiran laki-laki dan perempuan dari tahun 2000 s/d 2030 yang terlebih dahulu menghitung penduduk wanita usia subur (15 – 49) tahun antar periode 2000 – 2005, 2005 – 2010, 2010 – 2015, 2015 – 2020, 2020 – 2025, dan 2025 – 2030.
6.      Memproyeksikan penduduk yang berusia 0 tahun dari tahun 2000 s/d tahun 2025.
7.      Analisis hasil proyeksi penduduk.














BAB IV
KONDISI GEOGRAFIS KABUPATEN JOMBANG
4.1 Letak Luas dan Batas Kabupaten Jombang
            Wilayah kabupten Jombang mempunyai letak geografis antara 5.200 –5.300 Bujur Timur dan antara 7.20’ dan 7.45’ lintang selatan dengan luas wilayah 115.950 Ha atau 2,4% luas Propinsi Jawa Timur. Luas wilayah kabupaten 115.950 Ha atau 1.195,5 Km2. Terletak membentang antara 7.20’ dan 7.45’. Lintang Selatan 5.200 – 5.300 Bujur Timur. Kabupaten Jombang berbatasan langsung dengan sebelah utara  Kabupaten Lamongan, sebelah selatan Kabupaten Kediri, sebelah timur Kabupaten Mojokerto, sebelah barat Kabupaten Nganjuk. Administrasi Pemerintahan terdiri dari 21 Kecamatan dan 301 desa, 5 kelurahan. Kecamatan yang terluas adalah Kecamatan Kabuh (13.233 Ha) dan yang terkecil Kecamatan Ngusikan (34,90 Ha).
4.2 Keadaan Penduduk Kabupaten Jombang
            Jumlah penduduk Kabupaten Jombang pada tahun 2004 adalah 1.160.434 jiwa terdiri dari 572.874 Laki-laki dan 578.560 Perempuan, dengan perincian jumlah penduduk WNI sebesar 1.160.405 jiwa yang terdiri dari 572.866 laki-laki dan 587.539 perempuan, sedangkan jumlah penduduk WNA sebesar 29 jiwa yang terdiri dari 8 laki-laki dan 21 perempuan. Pada tahun 2005 adalah 1.163.420 jiwa terdiri dari 574.221 Laki-laki dan 589.199 Perempuan, dengan perincian jumlah penduduk WNI sebesar 1.163.396 jiwa yang terdiri dari 574.216 laki-laki dan 589.180 perempuan, sedangkan jumlah penduduk WNA sebesar 24 jiwa yang terdiri dari 5 laki-laki dan 19 perempuan. Pada tahun 2006 adalah 1.168.097 jiwa terdiri dari 577.094 Laki-laki dan 591.003 Perempuan, dengan perincian jumlah penduduk WNI sebesar 1.168.074 jiwa yang terdiri dari 577.088 laki-laki dan 590.986 perempuan, sedangkan jumlah penduduk WNA sebesar 23 jiwa yang terdiri dari 6 laki-laki dan 17 perempuan. Pada tahun 2007 adalah 1.174.059 jiwa terdiri dari 581.544 Laki-laki dan 592.512 Perempuan. Pada tahun 2008 adalah 1.343.379 jiwa terdiri dari 673.262 Laki-laki dan 670.117 Perempuan. Pada tahun 2009 adalah 1.348.199 jiwa terdiri dari 675.584 Laki-laki dan 672.615 Perempuan, dengan perincian jumlah penduduk WNI sebesar 1.348.178 jiwa yang terdiri dari 675.578 laki-laki dan 672.600 perempuan, sedangkan jumlah WNA sebesar 21 jiwa yang terdiri dari 6 laki-laki dan 15 perempuan. Pada tahun 2010 adalah 1.201.557 jiwa terdiri dari 597.219 Laki-laki dan 604.338 Perempuan ( Menurut Hasil Sensus 2010 BPS ).Penduduk terbesar terdapat di kecamatan Jombang (148.494 jiwa), sedangkan terkecil di Kecamatan Ngusikan ( 22.958 jiwa) pada tahun 2009 Pertumbuhan penduduk tahun 2007 s/d 2009 meningkat rata-rata 11,01 % pertahun.



















BAB V
PERENCANAAN PENDIDIKAN

5.1 Langkah – Langkah Perencanaan
Dalam perencanaan yang bersumber dari data, seluruh data statistik penduduk merupakan obyek galat (error), baik data tersebut diperoleh melalui registrasi ataupun dikumpulkan melalui sensus ataupun survei. Galat tersebut dapat berupa besar atau kecil, tergantung dari jenis data yang dikumpulkan, efisiensi dari sistem pengumpulan, kondisi geografis dan kebudayaan dari daerah yang bersangkutan. Dari seluruh jenis informasi yang dikumpulkan dalam sensus, seperti tanggal, bualan, dan tahun serta tempat dilahirkan, pada umumnya yang terakhir ini dapat dijawab dengan baik, sedangkan mengenai yang lainnya yaitu umur sangat sukar untuk mendapatkan yang mendekati kebenaran atau dengan kata lain kemungkinan akurasi dari data umur adalah yang tidak mempunyai dokumen tertentu mengenai umur perlu dicek dengan peristiwa-pweristiwa tertentu yang sekiranya dapat diketahui untuk daerah yang bersangkutan. Hal ini biasanya terjadi di negara-negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia.
Galat di dalam laporan atau kesalahan pencacahan timbul karena beberapa orang luput dari sensus tanpa dapat dihindari, misalnya gelandangan, sedang bepergian, atau semata –mata over looked oleh petugas / pewawancara. Atau dapat juga kesalahan pelaporan penduduk berhuubungan secara sistematis dengan karakteristik yang lain. Misalnya, laki- laki dewasa biasanya sangat mobile. Oleh karena itu sulit untuk dilokasikan  sehingga menyebabkan terjadinya under reporing enumeration, tetapi biasanya akan diimbangi oleh adanya perhitungan lebih dari satu kali.
Galat dapat juga terjadi karena kegagalan dalam melaporkan atau mencatat dari umur penduduk yang dihitung dalam sensus, atau karena umur yang dilaporkan salah. Jika umur tidak diketahui maka ada kemungkinan umur tersebut merupakan hasil pemikiran responden atau pencacah atau diisi di kantor sensus berdasarkan ciri-ciri lain orang yang bersangkutan. Oleh karena itu untuk mengetahui seberapa besar kesalahan tersebut perlu diadakan evaluasi terhadap distribusi umur sebelum dilakukan perhitungan atau pengolahan data.
Hal pertama yang dilakukan dalam prencanaan data ialah evaluasi data, dalam makalah ini digunakan metode Indeks gabungan ( Joint Score Index) yaitu perbandingan antara rasio sex dan rasio umur penduduk laki-laki maupun perempuan. Untuk menghitung Joint score Index harus menghitung IRS (Index Rasio Sex), IRUL (Indeks Rasio Umur Laki-laki), IRUP (Indeks Rasio Umur Perempuan).   Semakin besar hasil dari Joint score index tersebut maka data tersebut semakin banyak kesalahannya.
Setelah evaluasi data telah dilakukan, dapat dilakukan perhitungan mengenai level mortality. Level mortality merupakan dasar yang digunakan dalam menghitung dasar dan menganalisa data-data demogarfi misalnya untuk perapian penduduk, proyeksi penduduk dan seterusnya. Dalam perhitungan level mortality data penduduk Jombang perkotaan dan pedesaan ini menggunakan metode Brass dan metode sullivan. Semakin tinggi nilai dari level mortality maka taraf kehidupan pada daerah tersebut semakin lebih baik.
Dari evaluasi data dapat diketahui seberapa besar kesalahannya, meskipun masih sukar untuk mengetahui secara pasti dimana letak kesalahan tersebut serta faktor penyebabnya. Sebelum data digunakan untuk perhitungan demogarfi seperti proyeksi penduduk perlu diadakan perapian penduduk untuk mengurangi kalau mungkin menghilangkan dari kesalahan tersebut. Di dalam perapian penduduk data terdapat berbagai metode. Untuk laporan ini digunakan metode graduasi denagn data dasar yang dibutuhkan adalah distribusi penduduk menurut umur dan jenis kelamin dengan interval 5 tahun dan data tersebut ada pada data sensus penduduk. Hasil adari perapian data dengan metode ini merupakan perapian yang pertama, yang kemudian hasilnya nanti akan dirapiakn kembali untuk kedua kalinya, agar dipeoleh jumlah penduduk yang sama antara jumlah penduduk sebelum dirapikan dan setelah dirapikan.
Sebelum merapikan data untuk kedua kalinya diperlukan perhitungan-perhitungan lain seperti perhitungsn proyeksi penduduk ke belakang dengan metode Reverse Survuval Ratio, perhitungan level of fertility, perhitungan fertilitas. Dari perhitungan level of fertility dan fertilitas dapat diketahui perapian penduduk untuk kelompok usia 0-4, 5-9, dan 10-14. Selanjutnya perhitungan untuk perapian data penduduk kelompok usia 70-74, dan 75+.  Setelah tahap perapian data penduduk yang pertama kali sudah lengkap maka dapat dilakukan perapian data penduduk untuk kedua kalinya agar jumlah penduduk sebelum dan setelah dirapikan seimbang. Setelah perapian penduduk kedua selesai, maka perhitungan dilanjutkan pada perhitungan proyeksi penduduk dan perhitungan ASFR dengan asumsi kelahiran turun 50%, 25% dan tetap.
Setelah semua data diolah, maka dapat dilakukan untuk perhitungan pemecahan penduduk untuk memperoleh jumlah penduduk anak usia Sekolah Dasar. Dari data tersebut akan diperoleh proyeksi untuk jumlah anak usia Sekolah Dasar, kebutuhan guru dan gedung sekolah Dasar.












                                                   






BAB VI
PERENCANAAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN

6.1  Jumlah Anak Usia SMA Tahun 2000-2030
Dari hasil pemecahan umur penduduk dari tahun 2000 sampai tahun 2030 usia 16-18 tahun dapat diketahui berapa jumlah anak usia SMA. Di bawah ini adalah jumlah anak usia SD tahun 2000 – 2030 di Kabupaten Jombang dari berbagai tingkat asumsi.

Anak Usia SMA Tahun 2000-2030
MENGHITUNG PERTAMBAHAN ANAK USIA SEKOLAH
Tahun
Jumlah Penduduk

50%
r
25%
r
0%
r
2000
30315

30315

30315



0,00349

0,00349

0,00349
2010
31391

31391

31391



0,22703

0,22245

0,22254
2020
303933

290330

290593



-0,0072

-0,0075

-0,0022
2030
282865

269432

284226


6.2  Jumlah Kebutuhan Guru  SMA Tahun 2000-2030
            Jumlah ideal tiap satu gedung sekolah memiliki 810 siswa dengan kelas berisi 45 siswa. Siswa sebnyak 810 orang membutuhkan tenaga guru sebanyak 81 orang dengan rincian 9 Guru Agama, Guru Kesenian, Guru Olahraga, Guru Bahasa Inggris, Guru Kimia, Guru Fisika, Guru Biologi, Guru Geografi dan Guru Sejarah. Dari data jumlah sisiwa tiap lima tahun dapat dicari kebutuhan guru dalam lima tahun. Untuk mencari kebutuhan guru digunakan rumus:
   Rumus tersebut berlaku dengan asumsi bahwa setiap satu sekolah SMA mempunyai 6 kelas paralel, yang berarti 6x3 angkatan= 18 kelas, dimana tiap kelas berisi 45 siswa. Jadi jumlah siswa dalam satu sekolah sebanyak 810 orang. Sedangkan kebutuhan tenaga pendidik sebanyak 81, dengan rincian sebagai berikut:
Data guru:
1.      Guru Agama                  = 7
2.      Guru Kesenian               = 8
3.      Guru Olahraga               = 5
4.      Guru Bahasa Inggris      = 5
5.      Guru Kimia                    = 6
6.      Guru Fisika                    = 8
7.      Guru Biologi                  = 7
8.      Guru Geografi                = 5
9.      Guru Sejarah                  = 7
10.  Guru Ekonomi               = 7
11.  Guru BK                                    = 6
12.  Guru PPKn                    = 4
13.  Guru Bahasa Indonesia  = 6
14.  Guru Sosiologi               = 5

            Kebutuhan guru SMA tahun 2000-2030

Tahun
TETAP
∑AUS
DT
Guru Tambahan
∑ kebutuhan Guru
2000
30315
810
6
43
2010
31391
810
6
45
2020
303933
810
6
365
2030
282865
810
6
357






6.3  Jumlah Kebutuhan Gedung  SMA Tahun 2000-2030
Gedung sekolah merupakan sarana terpenting dalam penyelenggaraan pendidikan, dimana gedung merupakan tempat pendidikan tersebut berlangsung. Gedung sekolah yang memadai merupakan harapan dan kemajuan bagi dunia pendidikan. Dalam perencanaan pengembangan pendidikan, pengadaan gedung dan renovasi menjadi penting guna meningkatkan kulitas pendidikan. Kebutuhan untuk gedung sekolah perlu mendapat perhatian dimana semakin tahun jumlah penduduk di tiap kabupaten semakin bertambah dan ini akan menambah jumlah anak usia sekolah. Sehingga perlu dihitung seberapa besar kebutuhan gedung sekolah yang mengacu berdasarkan jumlah anak usia sekolah pada perhitungan sebelumnya.
Kebutuhan gedung sekolah dicari dengan rumus:






Kebutuhan Gedung SMA
Tahun
50%
25%
TETAP
∑AUS
DT
Kebutuhan Gedung
∑AUS
DT
∑ Kebutuhan Gedung
∑AUS
DT
∑ Kebutuhan Gedung
2000
30315
810
37
30315
810
37
30315
810
37
2010
31391
810
39
31391
810
39
31391
810
39
2020
303933
810
375
303933
810
358
303933
810
359
2030
282865
810
349
282865
810
333
282865
810
351






















BAB VII
PENUTUP
7.1 Kesimpulan
Penduduk akan selalu mengalami perubahan. Pertumbuhan penduduk semakin lama juga akan membawa dampak dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk aspek pendidikan. Pertumbuhan penduduk akan membutuhkan peningkatan baik secara kuantitas maupun kualitas sarana dan prasarana yang memadai. Peningkatan kualitas tersebut harus melalui perencanaan yang tepat agar tidak terjadi kelebihan ataupun kekurangan sarana pendidikan. Peningkatan sarana dan prasarana tersebut meliputi pemenuhan kebutuhan gedung dan pemenuhan kebutuhan guru. Perencanaan pendidikan diperlukan data mengenai proyeksi kebutuhan gedung dan guru yang mengacu dari data proyeksi anak usia Sekolah dasar.
Data di lapangan menunjukkan bahwa Jumlah murid Sekolah Menengah Atas menurut jenis sekolah dan kecamatan menunjukkan bahwa jumlah murid Sekolah Menengah Atas yang ada di kabupaten Jombang yaitu 94335 siswa pada tahun 2010-1011 ( Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten Jombang).  Sedangkan jumlah gedung Sekolah Menengah Atas yang tersedia ialah  578 gedung Sekolah Dasar belum termasuk gedung  Madrasah Aliyah. Jumlah Guru Sekolah Menengah Atas yang mengajar di Sekolah Menengah Atas baik negeri maupun swasta adalah 7192 guru. Sampai pada tahun 2010 jumlah gedung dan guru tersebut masih dapat memenuhi kebutuhan, untuk selanjutnya terjadi peningkatan kebutuhan beriringan dengan peningkatan penduduk. Pada tahun 2010 dapat segera dilakukan perencanaan pendidikan tersebut.
7.2 Saran
Dalam melakukan perencanaan pendidikan hendaknya mengacu pada data – data perhitungan yang tepat dan menyesuaikan dengan kebutuhan dari sarana dan prasarana yang dibutuhkan misalnya kebutuhan guru dan kebutuhan guru. Penyesuaian terhadap kebutuhan tersebut agar peningkatan sarana dan prasarana tersebut tidak mengalami kekurangan atau kelebihan, dengan harapan peningkatan pendidikan dapat maksimal.
DAFTAR RUJUKAN

Badan Pusat Statistik. 2001. Karakteristik Penduduk Kabupaten Jombang. Trenggalek: BPS Kabupaten Jombang
Drs. Budijanto, M. si. 2008. Analisis Demografi Teknik. Malang: Departemen Pendidikan Nasional Geografi FMIPA Universitas Negeri Malang
 Tirtaraharja, Umar. 2005. Pengantar Pendidikan (edisi revisi). Jakarta: PT. Rineka Cipta
(tanpa nama). Pendidikan. (online) (http://id.wikipedia.org)
(tanpa nama). Plan/ind/kab-jombang. (online) (http://www.eastjava.com)
Universitas Negeri Malang. 2000. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (edisi keempat). Malang: Universitas Negeri Malang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar