Sabtu, 24 Maret 2012

PENGARUH IKLIM TERHADAP PEMBENTUKAN TANAH


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Bumi adalah tempat tinggal mahkluk hidup termasuk manusia. Tanah merupakan salah satu unsur yang terdapat di bumi kita dan  merupakan unsur yang berguna bagi manusia. Sehingga tanah memang tida asing lagi bagi manusia. Bahkan memang tanah merupakan tempat berpijaknya kaki kita, tempat tumbuhnya tanaman atau tempat berdirinya suatu bangunan.  Namun tanah kerap kali kurang dimengerti sebagai bagian dari alam yang memberikan hakekat hidup bagi manusia.  Nah berikut adalah pengertian tanah menurut para ahli ahli tanah.
1. Tanah adalah bentukan alam, seperti tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia, yang mempunyai sifat tersendiri dan mencerminkan hasil pengaruh berbagai faktor yang membentuknya di alam.
2. Tanah adalah sarana produksi tanaman yang mampu menghasilkan berbagai tanaman.
Pembentukan tanah tidaklah terlepas dari pengaruh iklim. Karena iklim merupakan faktor yang mempengaruhi kecepatan pembentukan tanah. Terdapat dua unsur iklim terpeting yang mempengaruhi pembentukan tanah yaitu curah hujan dan suhu, yang berpengaruh besar pada kecepatan proses kimia dan fisika, yaitu  proses yang mempengaruhi perkembangan profil. Suhu memainkan terhadap kecepatan reaksi yang terjadi dalam tanah. Pengaruh dari curah hujan yang besar dan dan temperatur yang tinggi menghasilkan suatu keadaan yang optimum dalam pembentukan tanah. Dikarenakan suhu dan curah hujan tiap daerah lintang berbeda maka diperlukan pengklasifikasian sifat dan jenis tanah akibat perbedaan iklim.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah faktor iklim yang berpengaruh terhadap pembentukan tanah?
2. Bagaimana persebaran dan klasifikasi tanah yang dibentuk oleh pengaruh iklim?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui faktor iklim yang berpengaruh terhadap pembentukan tanah.
2. Untuk mengetahui persebaran dan klasifikasi tanah yang dibentuk oleh iklim.






























BAB II
PEMBAHASAN

A.    Iklim
Iklim merupakan rerata curah hujan panjang, minimal per musim atau per periode dan seterusnya. Sedangkan cuaca adalah kondisi iklim pada suatu waktu brjangkan pendek, misalnya harian, mingguan, bulanan dan maksimal semusim atau periode.
Semua energi di alam raya termasuk yang digunakan dalam proses genesis dan differensiasi tanah bersumber dari enrgi panas matahari. Jumlah eneerrgi yang sampai ke permukaan bumi tergantung pada kondisi cuaca, makin baik(cerah) cuaca makin banyak enrgi yang sampai ke bumi, sebaliknya jika cuca buruk(berawan). Cuacalah yang bertanggung jawab dalam mengubah energi matahari menjadi enrgi mekanik atau panas. Apabila energi mekanik menimbulkan gerakan udara atau angin yang memicu proses penguapan air  melalui mekanisme transpirasi tanaman dan evaporasi permukaan non tanaman(gabungannya disebut evapotranspirasi), maka energi  panas ditransformasikan oleh tetanaan menjadi energi kimiawi melalui mekanisme fotosintesis yang kemudian digunakan oleh makhluk hidup untuk aktivitasnya melalui mekanisme dekomposisi( humifikasi dan mineralisasi) bahan organik, termasuk pencernaan usus manusia dan hewan.
Diantara komponen iklim yang paling berperan adalha curah hujan(presipitasi) dan tempratur. Berdasarkan nisbah antara P{Presipitasi (hujan+ salju + embun)}; Et(evapotraspirasi), Walther Penck membagi tanah didunia menjadi dua wilayah, yaitu:
a. Daerah humid( basah)apabila nisbah P: lebih besar 0,7 dan
b. Daerah arid( kering) apabila bernisbah kurang dari 0,7
Lang membagi wilayah bumi berdasarkan nisbah R{curah hujan rerata tahunan(mm)} : T {tempratur rerata tahunan (0C)}  menjadi 4 wilayah, yaitu:
a. Daerah arid(kering) apabila nisbah R: T kurang dari 40, yaitu kawasan yang berevapotranspirasi llebih besar ketimbang curah hujan, sehingga air tanah naik ke permukaan. Tanah kawasan ini berciri khas adanya kerak-kerak garam di permukaan.
b. Daerah humid( lembab) apabila bernisbah antara 40- 160, yaitu kawasan yang bercurah hujan lebih besar ketimbang evapotranspirasi, sehingga proses mineralisasi lebih lambat ketimbang humifikasi.Oleh karena itu, humus makin banyak terbentuk dengan makin banyaknya hujan dan proses humifikasi optimum pada nisbah 120. Tanah-tanah di wilayah ini terbagi menjadi:
1) Tanah-tanah kuning atau merah dengan nisbah 40-60
2) Tanah-taanh coklat dengan nisbah 60-100 dan
3) Tanah-tanah hitam dengan nisbah 100-600
c. Daerah perhumid(sangat lembab), yaitu wilayah bernisbah leih besar dari 160
d. Daerah Nival(basah), yaitu wialyah tanpa penguapaan sama sekali, seperti di sebagian Eropa, Palestina dan Amerika Serikat.
Dua istilah yang sering juga dipergunakan adalah daerah pegunngan dan tropika. Daerah pegunungan menurut Meyer adalah dataran tinggi yang mempunyai nisbah N(jumlah hujan setahun) : S(defisit kejenuhan=beda tekanan uap air maksimum pada tempratur tertentu dan tekanan 76 cm Hg dengan kelembaban mutlak udara) untuk semua bulan lebih dari 30 atau lembab sepanjang tahun. Daerah Tropika menurut Thornwhite adalaah wilayah yang mempunyai  indek E-T lebih dari 128. Indeks E-T(Efisiensi Tempratur) adalah jumlah nisbah{tempratur bulan (0F)-32} : 4 atahun selama setahun(cit. Darmawijaya, 1990)
B.     Pengaruh insolasi matahari
Radiasi matahari merupakan transfer energi dalam bentuk gelombang elektromagnit yang dipancarkan oleh matahari.
Sedangkan insolasi adalah bagian dari radiasi matahari yang sampai pada permukaan bumi.
Ini mrupakan dasar dari segala energi eksogen yang mengubah aktivitas pada bumi, dari gelombang panajang matahari yang di ubah menjadi gelombang pendek dari matahari yang mengarah ke bumi
Pembagian iklim matahari didasarkan pada banyak sedikitnya sinar matahari atau berdasarkan letak dan kedudukan matahari terhadap permukaan bumi.
Kedudukan matahari dalam setahun adalah :
·         Matahari beredar pada garis khatulistiwa (garis lintang 0º) tanggal 21 Maret
·         Matahari beredar pada garis balik utara (23,5º LU) tanggal 21 Juni
·         Matahari beredar pada garis khatulistiwa (garis lintang 0º) tanggal 23 September
·         Matahari beredar pada garis balik selatan (23,5º LS) tanggal 22 Desember
Pembagian daerah iklim matahari berdasarkan letak lintang adalah sebagai berikut.
Ø Daerah iklim tropis
Iklim Tropis terletak antara 0° - 23½° LU dan 0° - 23½° LS. Ciri – ciri iklim tropis adalah sebagai berikut :
a. Suhu udara rata – rata tinggi, karena matahari selalu vertikal. Umumnya suhu udara antara 20° - 23° C. Bahkan dibeberapa tempat suhu tahunannya mencapai 30°C.
b. Amplitudo suhu rata – rata tahunan kecil. Di khatulistiwa antara 1° - 5° C, sedangkan amplitudo hariannya besar.
c. Tekanan udara lebih rendah dan perubahannya secara perlahan dan beraturan.
d. Hujan banyak dan umumnya lebih banyak dari daerah lain di dunia.
Ø Daerah iklim subtropis
Iklim subtropis terletak antara 23½° - 40° LU dan 23½° - 40° LS. Daerah ini merupakan peralihan antara iklim tropis dan iklim sedang. Ciri – ciri iklim subtropis adalah sebagai berikut:
a. Batas yang tegas tidak dapat ditentukan dan merupakan daerah peralihan dari daerah iklim tropis dan iklim sedang.
b. Terdapat empat musim, yaitu musim semi, musim panas, musim gugur, dan musin dingin. Tetapi pada iklim ini musim panas tidak terlalu panas dan musim dingin tidak terlalu dingin.
c. Suhu sepanjang tahun tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin.
d. Daerah subtropis yang musim hujannya jatuh pada musim dingin dan musim panasnya kering disebut daerah Iklim Mediterania. Jika hujan jatuh pada musim panas dan musim dinginnya kering disebut Daerah Iklim Tiongkok.
Ø Daerah iklim sedang
Iklim sedang terletak antara 40° - 66½° LU dan 40° - 66½° LS. Ciri – ciri iklim sedang adalah sebagai berikut :
a. Banyak terdapat gerakan – gerakan udara siklonal, tekanan udara yang sering berubah – ubah, arah angin yang bertiup berubah – ubah tidak menentu, dan sering terjadi badai secara tiba – tiba.
b. Amplitudo suhu tahunan lebih besar dan amplitudo suhu harian lebih kecil dibandingkan dengan yang terdapat pada daerah iklim tropis.
Ø Daerah iklim dingin
Iklim dingin terdapat di daerah kutub. Oleh sebab itu iklim ini disebut pula sebagai iklim kutub. Iklim dingin dapat dibagi dua, yaitu iklim tundra dan iklim es.
Ciri – ciri iklim tundra adalah sebagai berikut :
a. Musim dingin berlangsung lama
b. Musim panas yang sejuk berlangsung singkat.
c. Udaranya kering.
d. Tanahnya selalu membeku sepanjang tahun.
e. Di musim dingin tanah ditutupi es dan salju.
f. Di musim panas banyak terbentuk rawa yang luas akibat mencairnya es di permukaan tanah.
g. Vegetasinya jenis lumut-lumutan dan semak-semak.
Wilayahnya meliputi: Amerika utara, pulau-pulau di utara Kanada, pantai selatan Greenland, dan pantai utara Siberia.
Ø Daerah iklim es
Ciri – ciri iklim es adalah sebagai berikut :
a.       Suhu terus-menerus rendah sekali sehingga terdapat salju abadi.
Wilayahnya meliputi: kutub utara, yaitu Greenland (tanah hijau) dan Antartika di kutub selatan.
C.    Pengaruh curah hujan
Sebagai pelarut dan pengangkut, maka air hujan akan mempengaruhi: (1) komposisi kimiawi mineral-mineral penyusun tanah. (2) kedalaman dan differensissasi profil tanah, dan (3) sifat fisisk tanah. Pengaruh curah hujan terhada[a komposisi kimiawi tertera pada tabel 1.1 dan 1.2
Tabel 1.1. Prorporsi(%) komposisi kimiawi tanah daerah arid dan humid
Daeran
N Contoh
Bahan larut(%)
Komposisi senyawa kimiawi(%)
Total
SiO2
Al2O3
Fe203
CaO
MgO
K2O
Na2O
Arid(573)
30,84
6,71
7,21
5,47
1,43
1,27
0,67
0,35
Humid(696)
15,83
4,04
3,66
3,88
0,13
0,29
0,21
0,14

Tabel 1.2. Nilai pelindian tanah pada 3 zona iklim
Daerah
N Profil tanah
Nilai Pelindian
Semiarid-semihumid
15
0,981 + 0,059
Semihumid
29
0,901 + 0,028
Humid(terpodzolisasi)
12
0,719 + 0,053

Adanya perubahan perbedaan komposisi kimiawi sebagai konsekuensi berbedanya intensitas pelapukan terlihat pada tabel 1.1, yaitu:
1). Tanah daerah humid mempunyai bahan dan silikat larut, serta komponen senyawa kimiawi utama yang selalu lebih rendah ketimbang tanah daerah arid, dan
2). Nisbah besi-oksida: Al-oksida dan Mg-oksida : Ca-oksida pada tanah daerah humid lebih dari satu, sedangkan pada tanah daerah arid kurang dari satu.
Kemudian dari tabel 1.2 juga terlihat pada urutan( maksimal-minimal) nilai-nilai pelindian(leaching value) hasil penelitian Jenny terhadap tanah( Darmawijaya, 1990)
di Amerika Serikat, yaitu pada daerah:
·semiarid dampai semi humid > semihumid > humid(terpodzolisasi)
·Nilai pelindian adalh nilai nisbah Indeks Pelindian(IP) pada horizon tanah ; indeks pelindian pada horizon bahan indu, dengan indeks pelindian(IP):
IP=(K2O + Na2O + CaO) : (Al203)
Urutan nilai pelindian ini merupakan indikator makin intensetif pengaruh curha hujan dalam melindi senyawa-senyawa kimiawi yang diwakili oleh K2O, Na2O, CaO pada profil tanahnya ketimbang bahan induknya, sehingga juga merupakan indikator:
1. Makin rendah kadarnya dan ketersediaan hara, kejenuhan basa-basa( Ca, Mg, Na dan K), reaksi tanah(pH) dan muatan negati f koloid liat, apabila tanah-tanah tersebut berasal dari bahan induk yang sama, secara umum juga mencerminkan makin rendahnya kesuburan tanah
2. Makin banyaknya pembentukan liat oksida Al dan Fe yang bermuatan negatif rendah bahkan dapat bermuatan positif sehingga berdaya- fiksiasi tinggi terhadap anion-anion seperti fosfat, tetapi berdaya tukar rendah terhadap terhadap kation-kation seperti K, ca dan Mg. Hal ini berdampak negatif terhadap efisisensi pemupukan maupun ameliorasi(pembentukan sifat kimiawi tanah)
3. Makin terdifferensiasinya horizon-horizon tanah baik secara kimawi maupun fisik. Secara fisik, tanah-tanah akan mempunyai lapisan atas yang gembur dan relatif tipis, tetapi secara keseluruhan akan bersolum tebal bersifat kimiawi buruk dan bersifat fisis baik.
Curah hujan bekorelais erat dengan pembentukan tanah biomaass(bahan organik) tanah, karena air  merupakan komponene utama tetanaman maka kurangnya curah hujan akan menghambat pertumbuhan dan perkembangnnya. Oleh karena itu, pada tanah-tanah daerah arid umumnya dicirikan oleh rendahnya kadar BOT dan N, serta aktivitas mikrobia heterotrofik, (pengguna bionass sebagai sumber energi dan nutrisi), sebaliknya pada tanah-taanh daerah humid, bahkan pada kawasan-kawasan rawa-rawa akan terbentuk tanah gambut yang ketebalannya dapat lebih dari dua meter akibat terhambatnya mineralisasi dala proses dekomposisi biomass(humifikasi lebih dominan)


D.    Pengaruh Tempratur
Perbeedaan tempratur merupakan cerminan energi panas matahari yang sampai ke suatu wilayah, sehingga berfungsi sebagai pemicu:
a. Proses fisik dalam pembentukan liat dari mineral-mineral bahan induk tanah, dengan mekanisme identik proses pelapukan bebatuan yang telah diuraikan diatas,
b. Keanekaragaman hayati yang aktif, karena masing-masing kelompok terutama mikrobia mempunyai tempratur optimum spesifik, sehingga perbedaan tempratur akan menghasilkan jenis dan populasi mikrobia yang berbeda pula. Umunya makin rendah atau tinggi tempratur dari titik optimalnya akn diikuti oleh jenis dan populasi mikrobia yang makin sedikit.
c. Kesempuranan proses dekomposisi biomass tanah hingga ke mineralisasinya.
Sebagai hasil dari fungsi 2 dan 3 ini maka kadar-kadar  biomass tanah akan brvariasi. Tanah yang terbentuk pada tempratur rendah (daerah kutub) akan cenderung berkdar biomass rendah lagi mentah(fibrik), akibat tanaman yang tumbuhumunya berbatang kecil dan lambatnya berkembang dan sedikitnya populasi dan jenis mikrobia heterotrof yang aktif. Tanah yang terbentuk pada tempratur tinggi(daerah arid) juga berkadar biomass rendah tapi matang(saprik) karena cepat proses mineralisasi kimiawi terhadap sisa-sisa tanaman.
Tanah yang terbentuk pada daerah humid(sedang) akan mempunyai jenis dan populasi mikrobia yang ideal, maka aktivitas biologis dalam dekomposisi biomass juga akan ideal. Sumber biomassnya berlimpaha karena semua jenis tanaman akan tumbuh dan berkembang dengan baik, sehingga kadar biomass tanah dan derajat kematangannya juga akan sedang(hemik), karena laju proses humifikasi biomass seimbang dengan laju proses mineralisasinya.
Humifikasi adalah proses dekomposisi bahan organik tanah yang menghasilkan senyawa-senyawa organik sederhana(seperti amina dari protein monosakarida dari karbhohidrat) dan kumus sedangkan mineralisasi adalah proses dekomposisi senyawa-senyawa organik sederhana menjadi senyawa-senyawa atau ion-ion anorganik(seperti ammonium dan nitrat).
Aktifitas pembentukan tanah (pelapukan)  akibat aktifitas iklim
1.      Pelapukan fisik (mekanis), yaitu pelapukan yang disebabkan oleh perubahan volume batuan, dapat ditimbulkan oleh perubahan kondisi lingkungan (berkurangnya tekanan, insolasi, hidrasi, akar tanaman, binatang, hujan dan petir), atau karena interupsi kedalam pori-pori atau patahan batuan.
· Berkurangnya tekanan
Batuan beku yang penutupnya hilang, menyebabkan volume berkurang sehingga lingkungannya berubah, akibat selanjutnya tekanan pada batuan itu berubah. Oleh karena tekanan berubah maka kemampuan memuai atau menyusut berbeda-beda pula pada permukaan batuan, sehinga terjadilan retaka-retakan sejajar yang menyebabkan pengelupasan batuan (ekfoliation)
· Insolasi
Batuan yang terkena panas matahari akan memuai, tetapi tingkat pemuaian bagian luar dan bagian dalam tidak sama. Ketidaksamaan tingkat pemuaian tersebut menyebabkan batuan mengalami pecah.
· Hidrasi
Oleh karena proses hidrasi menyebabkan air masuk ke dalam pori-pori atau bidang belah mineral. Peristiwa ini didahului oleh pembentukan mineral baru. Masuknya air kedalam pori-pori atau bidang belah mineral menyebabkan batuan menjadi lapuk.
· Akar tanaman
Akar tanaman yang masuk ke dalam batuan menyebabkan batuan mengalami pelapukan fisik (pecah). Asam organik yang dikeluarkan akan menyebabkan pelapukan kimiawi.
· Binatang
Binatang yang menggali batuan lunak menyebabkan batuan mengalami pelapukan fisik pada batuan tersebut.
· Hujan dan Petir
Percikan air hujan dan petir menyebabkan batuan mengalami pelapukan fisik pada batuan tersebut.
· Adanya perbedaan temperatur yang tinggi.
Peristiwa ini terutama terjadi di daerah yang beriklim kontinental atau beriklim Gurun di daerah gurun temperatur pada siang hari dapat mencapai 50 Celcius. Pada siang hari bersuhu tinggi atau panas. Batuan menjadi mengembang, pada malam hari saat udara menjadi dingin, batuan mengerut. Apabila hal itu terjadi secara terus menerus dapat mengakibatkan batuan pecah atau retak-retak.          
- Interupsi ke dalam Pori-pori atau celah batuan
1. Frost weathering(forst wedging)
Di daerah iklim dingin air membeku menyebabkan vulome bertambah ± 10 % dan tekanannya bertambah ± 1 ton / inchi. Proses ini mnyebabkan batuan pecah karena mengalami beku celah (kryoturbasi).
2. Salt weathering
Di daerah iklim kering air menguap, menyebabkan garam-garaman, misal NaCl, MgSO4, KCl mengendap didalam pori-pori batuan tersebut meneka batuan hingga pecah.
   2.      Pelapukan kimiawi, yaitu pelapukan yang ditimbulkan oleh reaksi kimia terhadap massa batuan. Air, oksigen dan gas asam arang mudah bereaksi dengan mineral, sehingga membentuk mineral baru yang menyebabkan batuan cepat pecah. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi intensitas pelapukan kimiawi :
a.       Komposisi batuan
Ada mineral yang mudah bereaksi dengan air, oksigen dana gas asam arang, ada juga yang sulit. Bagi mineral yang mudah bereaksi dengan air, oksigen dan gas asam arang akan cepat lapuk daripada mineral yang sulit bereaksi dengan air, oksigen dan asam arang.
b.      Iklim
Daerah yang mempunyai iklim basah adan panas misalnya ilim hujan tropis akan mempercepat proses reaksi kimia, sehingga batuan menjadi cepat lapuk.
c.       Ukuran batuan
Makin kecil ukuran batuan makin intensif reaksi kimia pada batuan tersebut berarti makin cepat pelapukannya.
d.      Vegetasi dan binatang
Dalam hidupnya vegetai dan binatang menghasilkan asam-asam tertentu, oksigen dan gas asam arang sehingga mudah bereaksi dengan batuan. Artinya vegetasi dan binatang ikut mempercepat proses pelapukan batuan.
Adapun jenis-jenis pelapukan kimiawi adalah sebagai berikut:
1.      Hidrolisa
Yaitu pelapukan kimia yang disebabkan oleh air yang bereaksi langsung dengan mineral penyusun batuan, terjadi pengantian kation metal seperti K+, Na+, Ca++, Mg++, oleh ion H+. Bisa juga disebut reaksi senyawa air dengan senyawa lain yang menyebabkan senyawa bersangkutan terurai menjadi basa dan asam serta terlepas dari struktur mineral. Contoh hidrolisa adalah seperti berikut:
4NaAlSiO3O8 + 6H2O ---------> Al4Si4O10(OH+8Si)2 + Na+
(albit) (air) +4OH à kaolinit
2.      Oksidasi
Yaitu pelapukan kimia yang disebabkan reaksi oksigen terhadap mineral besi terhadap batuan terutama jika batuan dalma keadaan basah. Pengaruh oksidasi tampak jelas pada batuan yang mengandung besi. Perubahan warna akibat oksidasi dapat mudah diamati. Salah satu reaksinya dapat digambarkan dalam persamaan berikut:
4FeO + 3H2O + O2 -------> 2FeO33H2O
Warna coklat pada batuan itu menunjukkan hasil oksidasi batuan yang mengandung besi.
3.      Karbonisasi
Yaitu pelapukan yang dusebabkab oleh CO2 dan air membentuk senyawa ion bikarbonat (HCO3) yang aktif bereaksi dengan mineral-mineral yang mengandung kation-kation Fe, Ca, Mg,Na dan K. Pada proses ini tejadi dekomposisi pada batuan atau perubahan fisik. CO2 bekerja sebagai faktor pelapuk yang terpenting, air yang mengandung asam arang mempunyai daya melapukkan yang kuat. Gas asam arang dalam air itu diperoleh dari udara atau dari sisa tumbuh-tumbuhan. Batuan yang paling mudah lapuk oleh proses karbonasi adalah batu gamping,dekomposisi batuan gamping adalah seperti berikut:

CaCO3 + H2O + CO2 -------> Ca (HCO3)2
CaCO3 : calsite
CaCO2 : Cacium bicarbonate
Cacium bicarbonate itu mudah larut dalam air, dengan demikian air yang mengandung CO2 lebih mudah melarutkan Cacium bicarbonate (CaCO3) dari pada yang tidak mengandung CO2.
4.      Hidrasi
Hidarasi berarti adsorpsi air, ardsorpsi air adalah penarikan air oleh sesuatu zat, tetapi tidak terus masuk ke dalam zat tersebut, melainkan hanya di permukaan saja. Berbeda dengan absorpsi dimana meresapkan zat yang tertangkap itu ke dalam seluruh zat penangkap. Contoh:
2Fe2O3 + 3H2O ----------> 2Fe2O33H2O
(hematit) (air) (limonit)
Dengan demikian, volume limonit>hematit, kristalin menjadi nonkristalin.
5.      Desilikasi
Yaitu pelapukan kimia yang disebabkan oleh hilangnya silikat pada batuan terutama basaltis.
6.      Pelarutan atau penghancuran (solution/dissolution)
Yaitu pelapukan kimia yang disebabkan oleh mineral yang mengalami dekomposisi karena pelarutan oleh air. Contoh: kuarsa mengalami pelarutan.
SiO2 + 2H2O --------> Si(OH)4
3.      Pelapukan organik
yaitu pelapukan yang disebabkan oleh mahkluk hidup, seperti lumut. Pengaruh yang disebabkan oleh tumbuh tumbuhan ini dapat bersifat mekanik atau kimiawi. Pengaruh sifat mekanik yaitu berkembangnya akar tumbuh-tumbuhan di dalam tanah yang dapat merusak tanah disekitarnya. Pengaruh zat kimiawi yaitu berupa zat asam yang dikeluarkan oleh akar- akar serat makanan menghisap garam makanan. Zat asam ini merusak batuan sehingga garam-garaman mudah diserap oleh akar. Manusia juga berperan dalam pelapukan melalui aktifitas penebangan pohon, pembangunan maupun penambangan.


4.      Gerakan massa batuan (mass wasting)
yaitu perpindahan atau gerakan massa batuan atau tanah yang ada di lereng oleh pengaruh gaya berat atau gravitasi atau kejenuhan massa air. Ada yang menganggap masswasting itu sebagai bagian dari pada erosi dan ada pula yang memisahkannya. Hal ini mudah difahami karena memang sukar untuk dipisahkan secara tegas, karena dalam erosi juga gaya berat batuan itu turut bekerja.
Pada batuan yang mengandung air, gerakan massa batuan itu lebih lancar dari pada batuan yang kering. Perbedaannya ialah bahwa pada masswasting, air hanya berjumlah sedikit dan fungsinya bukan sebagai pengangkut, melalinkan hanya sekedar membantu memperlancar gerakan saja. Sedang dalam erosi diperlukan adanya tenaga pengangkut. Gerakan massa batuan pada dasarnya disebabkan oleh adanya gayaberat/gravitasi atau gaya tarik bumi.
E.     Persebaran Dan Klasifikasi Menurut Peta Ordo  Tanah Sifat, Pentebaran Dan Penggunaan.
Sebagian besar penduduk dunia menjalankan kehidupannya dengan mengelolah tanah. Tanah secara langsung mempengaruhi kehidupan mereka setiap hari dalam menentukan bagaimana mereka menumbuhkan tanaman mereka. Dengan mempengaruhi dengan jumlah dan jenis makanan yang mereka makan, tanah mempengaruhi kesehatan mereka.
A.     ENTISOL
            Entisol merupakan tanah yang cenderung menjadi. Merekan dicirikan Tanah yang berkembang pada alluvium dari tanah asal yang baru dan mempunyai perkembangan profil sangat lemah, umumnya adalah Fluvent. Pada beberapa dari mereka, perubahan warna horizon A ke C sukar dilihat atau nyata. Mereka itu sebagian besar tanah yang sifatnya sudah diturunkan dan biasanya dicirikan oleh stratifikasi. Tekstur dihubungkan dengan laju dimana air mengedapkan alluvium untuk alas an ini, mereka cenderung bertekstur kasar di dekat arus air dan bertekstur halus di dekat tepi-tepi luar dari dataran bajir. Dilihat keadaan mineralnya mereka dihubungkan dengan tanah yang menyediakan sumber alluvium.
Banjir secara periodik membawa mineral segar ke tanah, dan mereka cenderung tetap subur. Tanah tetap kelihatan muda, karena ditutupi sebelum kedewasaan dicapai.
Sebagian besar tanah di dunia yang berkembang dari sedimen yang tidak dapat disatukan adalah entisol bila mereka muda. Lereng yang curam (dimana erosi terjadi cepat), waktu yang tidak cukup, perpindahan bahan (pada kasus bukit pasir) merupakan penyebab utama untuk keberadaan mereka. Bukit pasir yang tidak stabil berkembang menjadi entisol setelah vegetasi menjadi mantap. Entisol (psamments) merupakan tanah dominan pada bukit pasir stabil di bukit pasir Nebraska.
Etisol yang berkembang dari bukit pasir mempunyai nilai budidaya pertanian terbatas. Pengaruh danau yang cukup pada iklim membuatnya menguntungkan untuk menaikkan produksi buah-buahan pada beberapa entisol di Michigan. Area yang ….. dari entisol sering kali terdapat pada bagian curam lahan yang dikerjakan dan mereka menggunakan secara afektiv bersamaan tananh di sekelilingnya yang mungkin lebih tua dan termasuk bagian utama dari lahan. Mereka mempunyai kandungan bahan organik yang rendah dan umumnya responsive terhadap pemupukan nitrogen.
Beberapa entisol mempunyai horizon A yang bersandar langsung pada batuan induk yang keras. Dua factor sangat penting yang memberi sumbangan terhadap perkembangan mereka adalah kerasnya batuan dan curamnya lereng. Kecepatan disintegrasi batuan sedikit lebih cepat daripada pemindahan bahan melalui erosi. Celah-celah di bawah batuan, memungkinkan akar-akar lebih banyak masuk dalam horizon A. dimana horizon A tebalnya 20 – 50 cm, lahan digunakan dengan menguntungkan untuk penggembalaan.
Entisol AR (Orthents) umumnya di daerah pegunungan dan memberikan bukti pada kenyataan bahwa tanah yang dalam tidak menutup lahan dimana-mana sebelum pertanian dimulai beberapa tanah yang dalam dan produktif salah satunya adalah entisol dan dalam pengertian, tanah-tanah ini mungkin tidak tetap dalam perkembangan profilnya yang dapat dibedakan dengan baik.


B.     INCEPTISOL
            Inceptisol berasal dari bahasa latin “inceptum” yang berarti permulaan. Perkembangan horizon genetic, baru dimulai dalam inceptisol tetapi mereka dianggap lebih tua dari entisol. Keistimewaannya inceptisol mempunyai epipedon ochric dan horizon sub permukaan cambic. Mereka dapat mempunyai horizon diagnostic lain, tetapi memperlihatkan bukti kecil dari eluviasi kurang. Mereka kurang cukup menggambarkan petunjuk yang ditempatkan pada setiap ordo tanah yang tetap.
            Inceptisol terjadi pada semua daerah iklim, dimana mereka mengalami banyak pencucian dalam sebagian besar tahun. Dua area besar diperhatikan, termasuk tundra di Amerika Utara dan Asia Eropa. Tanah tundra dicirikan dengan kandungan organic yang tinggi. Vegetasi terdiri terutama dari vegetasi berlumut, campuran cendawan dan lumut yang hidup bersama (lichens) dan jenis alang-alang yang tumbuh di bawah. Tanaman-tanaman ini tumbuh sangat lambat tetapi rendahnya temperature tanah mengahmbat perombakan bahan organic, berakibat pada tanah-tanah dengan kandungan bahan organic yang tinggi. Mereka selalu mempunyai permafrost agak asam sampai sangat asam dan mempunyai mikro relief permukaan yang disebabkan oleh pembekuan dan pencairan. Sebagian besar tanah tundra memperlihatkan bukti kebasahan atau drainase yang miskin. Mereka adalah aquepts.
            Incepcisol tundra mengandung suatu populasi jarang dan pemburu-pemburu yang mengembara yang hidup selalu di daerah-daerah dimana “caribou” dihasilkan. Dalam tahun-tahun belakangan ini orang-orang Eskimo diberitakan mempunyai radio aktif yang tinggi. Pengujian bom nuklir di arctic menghasilkan jatuhnya radio aktif yang diabsorbsi oleh linchen. Caribou memakan linchen dan radio aktif ditransfer ke manusia lewat daging. Orang-orang Eskimo di brooks range di Alaska ditemukan mempunyai radio aktif 100 kali atau lebih dibandingkan dengan orang-orang yang berada di daerah lintang yang lebih rendah.
            Beberapa tanah inceptisol merupakan tanah abu vulkanic andepts. Mereka menunjukkan satu stadia pada perkembangan ultisol dan oxisol di daerah tropic basah. Mereka mempunyai liat yang tak berbentuk dan selalu sangat asam. Beberapa digunakan secara intensif untuk memproduksi tebu, kopi dan tanaman-tanaman lain.
            Inceptisol tersebar luas di seluruh dunia dan beberapa pembentuk pertanian dan padang rumput yang baik. Data dari table memperhatikan bahwa inceptisol mengisi 15,8% permukaan lahan dunia merupakan tingkat kedua dari ordo yang berlimpah. Inceptisol basah atau equepts yang berada di lembah sungai yang besar di asia merupakan tanah yang sangat ekstensif digunakan untuk memproduksi padi sawah.
C.    ARIDISOL
     Aridisol mempunyai regim kelembaban tanah aridic dan merupakan tanah dominan rendah padang pasir, merupakan ordo tanah yang berlimpah mendekati 20% tanah di dunia (lihat table). Belukar padang pasir mendominasi sebagian besar daerah arid dimana belukar memberikan jalan tumbuhnya rumput berkelompok dengan meningkatnya kelembaban. Tanaman berjarak cukup lebar antara satu dengan yang lainnya dan bagaimanapun menggunakan kelembaban tanah agak kurang efektif. Barang kali salah satu yang mengejutkan bagi seorang yang seluruh hidupnya tinggal di daerah basah dan kemudian bepergian di padang pasir adalah begitu besar diversifikasi.
 Tanaman dan jumlah vegetasi yang perlu diperkirakan. Beberapa tanaman padang pasir tumbuh dan berfungsi selama musim yang lebih basah pada tahun tersebut dan menjadi dorman selama musim paling kering. Pada daerah yang lebih basah, atau daerah tepi sebelah timur daerah kering Amerika Serika bagian barat, rumput daerah padang pasir yang berkelompok mendapat kesempatan menjadi lebih tinggi dan lebih banyak rumput yang sangat vigorous : aridisol bergabung dengan molisol.







Tabel 10-4. Luas tanah di dunia menurut ordonya
Ordo tanah
Luas dalam total ribuan atau di dunia mil persegi (%)

Tingkatan (ranking)
Alfisol
7600
14,7
3
Aridisol
9900
19,2
1
Entisol
6500
12,5
4
Histosol
400
0,8
10
Inceptisol
8100
15,8
2
Mollisol
4600
9,0
6
Oxisol
4800
9,2
5
Spodosol
2800
5,4
8
Ultisol
4400
8,5
7
Vertisol
1100
2,1
9
Lapangan es
-


Pegunungan tak rata
1200
2,4

Pegunungan tak terhitung
200
0,4

total
51600
100


ü  PERKEMBANGAN DAN SIFAT ARIDISOL
            Di daerah kering proses pembentukan tanah sama dengan yang terjadi di daerah basah, tetapi laju perkembangan tanah daerah kering sangat lambat. Jumlah tanaman yang tumbuh lebih sedikit dan kecilnya potensi perobakan bahan organic menghasilkan tanah dengan kandungan bahan organic rendah. Angin memainkan peran penting dalam perkembangan aridisol. Angin memindahkan debu, kadang-kadang hujan mencuci unsure hara berlarut dari debu pada perjalanannya melintasi padang pasir. Peranan nyata yang lebih penting dari angin adalah meniup partikel-partikel tanah yang halus, berakibat dalam pembantukan satu konsentrasi kerikil atau pembantukan padang pasir di kanan kirinya.
            Air kurang efektif dalam pencucian garam-garam berlarut dan memindahkan bahan koloid di daerah arid, sebab rendahnya presipitasi. Factor lain adalah alam yang tercerai berai karena curah hujan yang besar berakibat terjadinya aliran permukaan. Gamabaran yang memperburuk sebagian besar aridisol adlah suatu zone dengan jarak yang bervariasi dibawah permukaan dimana kalisium karbonat telah ditimbun oleh air berkolasi (horizon klasik).
   Beberapa aridisol mempunyai horizon argillic (Bt). Yang berkembang dengan baik, yang merupakan bukti perkiraan adanya pergerakan liat. Keberadaan horizon argillic yang luas pada beberapa ardisol mengingatkan bahwa beberapa tahun yang lalu lebih banyak terjadi iklim basah daripada yang terjadi pada waktu ini. “mohave” adalah aridisol yang biasa dari bagian barat daya amerika serikat, beberapa data Mohave ditampilkan dalam table untuk menggambarkan atau ciri yang bisa ditemukan pada aridisol terdapat adanya horizon argillic, kandungan bahan organic rendah dan ratio karbon, nitrogen dalam bahan organic rendah, adanya natrium dapat ditukar yang nyata, nilai pH tinggi dan akumulasi kalsium karbonat (K) di bagian lebih bawah pada profil.
Aridisol ditempatkan dalm sub ordo berdasarkan ada atau tidaknya horizon argillic. Sub ordo orthid termasuk oridisol yang tidak mempunyai horizon argillic. Sebaliknya sub ordo arghid termasuk aridisol dengan horizon argillic. Seperti yang telah kita catat Mohave mempunyai horizon argilik; jadi Mohave adalah argid. Distribusi Orthid dan Argid pada umumnya di Amerika Serikat dapat dilihat pada gambar 10-2
ü  HUBUNGAN PERMUKAAN LAHAN DENGAN UMUR ARIDISOL
            Dapat dipercaya bahwa orthid merupakan aridisol yang lebih muda dan bahwa argid merupakan aridisol lebih tua. Terdapat bukti bahwa orthid, di Amerika Serikat berkembang sangat beasr dalam 25.000 tahun yang lau di iklim kering. Orthid sebagian besar terdapat dimana alluvium belakangan ini telah ditimbun. Argid biasanya pada permukaan lahan yang lebih tua di setiap landscape dimana terdapat lebih banyak watu untuk pembentukan horizon argilik dan satu kemungkinan yang besar dimana tanah telah dipengaruhi oleh lebih banyak iklim basah lebih dari 25.000 tahun yang lalu. Pada sebagian besar sedimen ini atau permukaan lahan belakangan ini entisol berlimpah.
ü  TATA GUNA LAHAN PADA ARIDISOL
            Aridosol di bagian barat Amerika serikt seluruhnya terjadi dalam suatu daerah yang disebut “kisaran barat daerah beririgasi”. Seperti nama yang tercantum, penggembalaan domba dan sapi, produksi tanaman dengan irigasi adalah dua cara utama penggunaan lahan ini. Penggunaanlahan untuk penggembalaan berhubungan erat dengan presipitasi, yang menentukan secara luas jumlah produksi  makanan ternak. Beberapa area sangat kering digunakan untuk penggembalaan, sedangkan  area lainnya sangat mendukung untuk dijadikan  penggembalaan pada musim panasdi padang-padang rumput di gunung. Sebanyak 35 hektar atau 75 are atau lebih area kering diperlukan diperlukan setiap ekor sapi, jadi memperbesar usaha pertanian merupakan suatu keharusan. Sebagian besar pemilik tempat pemeliharaan ternak menyediakan tambahan hijauan makanan ternak dengan memproduksi beberapa tanaman pada area kecil yang berlokasi baik untuk irigasi (lihat Gambar 10-6). Bahaya utama dalam penggunaan lahan penggembalaan adalah penggembalaan berat yang mengakibatkan penyerbuan spesies tanaman yang kurang layak dan meningkatkan erosi tanah.
            Hanya sekitar satu atau dua persen lahan yang diirigasi, sebab produksi tanaman dengan irigasi tergantung pada penyediaan air. Sebagian besar lahan beririgasi terletak pada tanah-tanah aluvial atau Entisol, sepanjang arus air dan sungai dimana tanah mendekati muka air dan air irigasi dapat didistribusikan ke tempat lapang oleh gravitasi. Sebagai tambahan,sungai-sungai yang didekatinya melayaninya sebagai satu sumber air dari aliran sungai dan membawa air irigasi dari tempat penampungan persediaan air. Keadaan alkali Aridosol dapat menyebabkan defisiensi beberapa unsur hara pada tanaman tertentu. Tanaman utama termasuk tanaman alfalfa, kapas, buah jeruk, sayur-sayuran dan tanaman biji-bijian. Di Arizona, produksi tanaman hanya dua persen dari lahan yang memberikan 60 persen penerimaan total suatu usaha pertanian. Penggembalaan sebaiknya menggunakan 80 persen lahan dan memberikan hanya 40 persen penerimaan total usaha pertanian.


D.    MOLLIASOL
Berbatasan dengan beberapa deaerah padang pasir adalah area bercurah hujan tinggi yang mendukung rumput yang menutupi tanah dengan sempurna dan menghasilkan bahan organik yang berlimpah, yang dirombak dalam tanah. Curah hujan, bagaimanapun cukup dibatasi untuk mencegah pencucian berlebihan dan kejenuhan basa tetap tinggi. Perombakan bahan organik yang berlimpah dalam tanah yang ada kalsiumnya mengawali  pembentukan epipedon mollik. Struktur tanah dengan agregat yang baik menghasilkan tanah yang lembut dan tidak pejal atau tidak keras bila kering. Semua mollik mempunyai epidon mollik.
Gambaran horison mollik yaitu: (1) lembut bila kering, (2) berwarna gelap dan paling sedikit bahan organiknya 1 persen (kecuali kapur sangat tinggi0, dan (3) kejenuhan basa 50  persen ataulebih (diukur pada pH 7). Sebagian besar horison mollik tebalnya 18 sentimeter atau lebih. Suatu tanah dengan satu epipedon mollik diperlihatkan pada gambar  10-8. Pada beberapa Mollisol terjadi perpindahan liat yang cukup untuk memenuhi horison Bt atau horison argilik. Sebagai satu kelompok, Mollisol merupakan kombinasi kesuburan tanah yang tinggi an curah hujan sedang samapi cukup sehingga mungkin mereka termasuk sebagian besar tanah-tanah yang sangat produktif di dunia.
ü  Hubungan geografis Mollisol
Secara geografis, Mollisol dan Aridisolyang luas mengambil sebagian suatu ikatan yang umum. Ilustrasi ditampilkan dalam Gambar 10-1 termasuk Great Plain di Amerika Utara dataran di bagian selatan Amerika Selatan (Argentina), sebelah selatan Uni Soviet dan bagian timur laut China. Mollisol yang lebih kering dari Great Plain, dekat batas Aridisol-Mollisol, mempunyai regim kelembaban ustic yang disebut Ustoll. Ustoll keistimewaannya mempunyai lapisan-lapisan akumulasi kapur (K). Di Nebraska bagian timur, Ustoll berbatasan dengan Uddol. Mollisol yang mempunyai regim kelembaban usdic.
Mollisol basah atau Uddol tidak mempunyai lapisan-lapisan akumulasi kapur. Pada area ini peningkatan presipitasi ari Aridisol ke Mollisol berakibat pada perubahan bertahap pada ciri tanah seperti yang ditampilkan dalam Gambar 10-9. Dengan meningkatnya presipitasi akan terjadi peningkatan bertahap ketebalan solum, kandungan bahan organik, perkembangan horison Bt dan ketebalan lapisan K. Satu profil tanah dekat batas Aridosol-Mollisol di Colorado ditampilkan dalam gambar 10-10 dan menggambarkan beberapa gambaran dominasi Mollisol.
            Mollisol di daerah Palouse Washington, Idaho dan Oregon berkembang dari loess (ditambah beberapa abu vulkanik)dan sama dengan Udoll di Lowa dan Illinois. Tanah-tanah bagian barat ini mempunyai iklim Mediterranean, sehingga mereka basah di musim dingin dan kering di musim panas. Tanah-tanah mempunyai regim kelembaban tanah xerik dan disebut Xeroll. Mollisol Great Plain adalah Boroll. Mollisol basah adalah aquoll dan sangat penting pada dataran seperti es belakangan ini di Midwest. Gambar 10-2 memperlihatkan distribusi area utama sub ordo Mollisol.
ü  Tata guna lahan pada Mollisol
Padang-padang rumput utama di dunia tidak mempunyai pohon-pohon sebagai barang yang tidak berguna, siap menyediakan air, dan daerah alami untuk melindunginya terhadap pendatang liar. Sebagai satu akibat, area tersebut didiami terutama oleh pengembara sejak kira-kira 150 tahun yang lalu. Kenyataannya, lahan perawan di Uni Soviet telah dibuka untuk kegiatan pertanian  pada tahun 1954. Saat ini, area tersebut dicirikan oleh tanah yang sangat baik untuk tanaman dan kepadatan penduduk rendah. Tataguna lahan penting dihubungkan dengan penyediaan kelembaban dan temperatur.
Penggembalaan merupakan suatu tataguna  lahan utama Ustoll (lihat gambar 10-11). Pertanian lahan kering dilaksanakan secara ekstensif untuk memproduksi gandum. Irigasi digunakan, terutama sepanjang lembah sungai; berbagai varietas tanaman beririgasi ditanam. Buah-buahan, sayur-sayuran dan bit gula mengisi  sebagian kecil daerah dengan irigasi. Bila seseorang pergi ke timur melintasi Great plain Amerika Seriakt, curah hujan meningkat; terjadi  penurunan penggembalaan dan meningkatkan produksi gandum. Dekat perbatasan Udoll, jagung menjadi tanaman utama. Udoll mengkombinasikan kesuburan tanah alami yang tinggi, kelembaban cukup dan musim panas yang banayk yang sesuai sekali untuk memproduksi jagung dan kedelai. Dua area Udoll yang sangat luas adalah Corn Belt di Amerika Serikat dan pampa basah di Argentina.
Sebagian besar Boroll di bagian utara Great Plain dan Canada mempunyai regim temperatur tanah cyric. Musim dingin sangat dingin untuk gandum musim dingin (dan musim panas) sangat dingin untuk jagung dan kedelai. Gandum musim dingin ditanam pada musim gugur dangandum musim semi ditanam pada musim semi, memberikan gandum musim dingin mempunyai musim tanam yang lebih panjang. Konsekuensinya, hasil lebih tinggi pada daerah gandum musim dingin. Gandum  musim dingin juga merupakan tanaman utama Xeroll di Palouse Hills (lihat gambar 10-12).
Satu jumlah tanah yang nyata di atas lembah sungai Missisipi berkembang dalam pengaruh drainase yang tidak lebih baik dan mempunyai regim kelembaban aquic. Tanah ini adalah Aquoll. Horison Mollisoltanah inicenderung sangat tebal, berwarna sangat gelap dan mempunyai kandungan bahan organik tinggi. Pencucian yang terjadi minimum karena adanya lapisan kedao air yang tinggi setiap waktu. Mereka memerlukan drainase untuk memproduksi tanaman dan  bila drainase sudah dilakukan sepatutnya, beberapa tanah akan menjadi tanah pertanian yang produktif. Di Illinois, sebagian besar tanah mempunyai jenis lempung liat berdebu Drummer adalah Aquoll. Beberapa Corn Belt yang mempunyai reputasi untuk memproduksi jagung yang dihasilkan dari luasan Mollisol sangat luas berkembang di tanah datar dengan drainase yang tidak baik (lihat Gambar 10-13).
Aquoll juga merupakan tanah dominan di lembah sungai Red di perbatasan Minnesota, Dakota Utara. Gandum merupakan tanaman pangan yang sangat penting di dunia, dalam luasan maupun produksi. Jagung barangkali merupakan tanaman penting ketiga setelah padi. Bandingkan  peta di Gambar 10-14, yang memperlihatkan produksi gandum dan jagung di dunia. Uni Soviet merupakan penghasil utama gandum. Amerika Serikat merupakan penghasil utama jagung.Hal ini berkorelasi dengan berlimpahnya tipe Udoll Mollisol di Amerika Serikat dan tidak terdapatnya mereka di Uni Soviet. Di Amerika Serikat, produksi jagung dipusatkan di Corn Belt pada Udoll lembab dan produksi gandum dipusatkan pada Ustoll kering dan Boroll sejuk. Perbandingan yang sama dapat dibuat intuk pampa di Argentina. Lebih dari 50 persen produksi jagung dunia dan sekitar 15 persen gandum dunia dihasilkan di Amerika Serikat, yang merupakan satu indikasi parsial dimana satu jumlah yang perlu diperkirakan bahwa Mollisol di dunia terletak di Amerika Serikat. Mollisol mengisi hanya 9 persen permukaan bumi (lihat Tabel 10-14), tetapi mengahsilkan satu jumlah presentase pangan dunia yang lebih besar.
E. SPODOSOL
ü  Pembentukan Profil Dan Karekter Tanah Spodosol
Spodosol merupakan tanah mineral yang mempunyai horizon spodik, suatu horizon dalam dengan akumulasi bahan organic, dan oksidasi aluminium (Al) dengan atau tanpa oksidasi besi (Fe). Horizon iluvial ini dijumpai dibawah horizon eluviasi, biasanya suatu horizon albik (berwarna merah muda, dengan demikian memadai bila disebut abu kayu). Umumnya terbentuk diwilayah iklim humid, dibawah vegetasi hutan basah dan berkembang dari bahan endapan dan batuan sediment kaya kuarsa yang dipercepat oleh adanya vegetasi yang menghasilkan serasah asam. Senyawa – senyawa organic tercuci kebawah bersama air perkolasi sehingga tanah permukaan menjadi berwarna terang, sedang horizon bawah menjadi berwarna gelap karena terjadinya selaput organic pada butir-butir tanah.
Species tumbuhan yang berkadar ion-ion logam rendah, seperti pinus, kelihatannya merangsang pertumbuhan spodosol. Dengan membusuknya daun-daun yang rendah kadar ion logamnya, kemasaman tinggi akan terbentuk. Air perkolasi membawa asam-asam itu kebagian profil tanah yang lenig dalam. Horizon atas hancur karena pencucian intensif oleh asam. Sebagian besar mineral, dipindahkan kebagian lebih dalam. Oksida aluminium dan besi serta bahan organic akan diendapkan di horizon bagian bawah, sehingga menghasilkan profil spodosol yang menarik.
Profil Tanah Spodosol
Mengikuti definisi kuantitatif taksonomi tanah, tanah diklasifikasi sebagai spodosol, apabila memiliki horizon dengan semua sifat berikut : i. Tersementasi dengan kelembaban minimum 10 cm; ii. Terletak langsung dibawah horizon albik, pada 50 % atau lebih dari setiap pedonnya; iii. Batas atas berada dalam kedalaman <50 cm, apabila kelas besar butirnya berlempung kasar, skeletal berlempung, atau lebih halus atau <200 cm. Apabila kelas besar butirnya berpasir, dan; iv. Batas bawah pada kedalaman 25 cm atau lebih, dari permukaan tanah.
Dalam hal ini Spodosol mencakup Tanah-tanah yang disebut : Podzol dan Podzol Air Tanah.
Ciri – ciri morfologi tanah spodosol tersusun atas : Horizon A2, merupakan lapisan yang mencirikan berupa abu berwarna pucat dengan tekstur liat berlempung, berminyak jika dipijat, kadang-kadang ada konkresi. Horizon B dibedakan dengan jelas dari horizon diatasnya oleh warnanya yang coklat kelam sampai coklat biasa, tekstur lebih halus, struktur tiang akibat saling koagulasi Al dan Fe yang bermuatan positif dengan bahan organik yang bermuatan negatif, sering kali horizon ini mengandung padas. Horizon BC dan C, makin bawah warnyanya makin mendekati warna bahan induk dan tekstur makin kasar.
ü  Penyebaran Spodosol
Spodosol adalah Tanah – tanah yang secara unik berkembang dari endapan pasir kuarsa, dan/atau batu sedimen berupa batu pasir kuarsa. Vegetasi alami yang tumbuh biasanya spesifik jenisnya. Yaitu vegetasi yang mampu berkembang subur di Tanah masam, seperti kantung Semar dan Paku-pakuan.
Banyak tanah dari timur laut amerika serikat, termsuk bagian utara michigan dan winconsin yang dulunya digolongkan sebagai podsol, podsolik coklat dan podsol air tanah termasuk dalam spodosol. Sebagian dari mereka adalah orthod, suatu spodosol umum. Akan tetapi beberapa adalah aquod, karena tanah ini selama musim tertentu jenuh dengan air dan mempunyai ciri-ciri yang berasosiasi dengan kebasahan, seperti akumulasi bahan organik yang tinggi, becak-becak pada horizon albik dan terbentuknya semacam lapisan keras (duripan) pada horizon albik. Daerah-daerah dari aquod adalah Florida.
Daerah spodosol dibagian timur laut membentang ke kanada. Daerah luas lainnya dari golongan ini dijumpai dibagian utara eropa dan siberia. Daerah yang kurang luas tetapi penting ditemuakan di amerika selatan dan dipegunungan daerah beriklim sedang.
Di Indonesia sendiri penyebaran endapan pasir dan batu pasir kuarsa yang secara geologis sangat luas, terdapat di kalimantan tengah, serta setempat-setempat di kalimantan barat dan kalimantan timur. Di pulau lain nampaknya tidak luas penyebaranya dan setempat – setempat terdapat disulawesi dan sumatra. Landform – nya dimasukkan sebagai dataran tektonik. Lanscape luas tanah spodosol seluruhnya diperkirakan 2,16 juta ha atau 1,1 % wilayah dataran indonesia. Penyebaranya paling luas terdapat di kalimantan tengah sekitar 1,51 juta ha, kemudian dikalimantan barat 0,42 juta dan kalimantan Timur 0,15 juta ha. Di silawesi tengah, tengah, selatan dan tenggara dipearkirakan terdapat antara 11-25 ribu ha.
ü  Pengaruh Spodosol dalam Pertanian
Dari empat sub-ordo dalam kelompok spodosol, yang sering kali dibuka untuk pertanian adalah Haplorthods yaitu spodosol yang terbentuk diwilayah beriklim basah, dengan curah hujan tunggi dan rezim kelembaban tanah udik dan aquods yaitu spodosol basah atau jenuh air dengan drainase sangat terhambat dan sering kali mempunyai permukaan air tanah berada dekat dengan permukaan tanah.
Data dari analisis tanah dari beberapa pedon Spodosol dari kalimantan tengah dan kalimantan barat menunjukkan bahwa, Spodosol termasuk tanah dengan kelas besar butir berpasir, dengan kandungan fraksi pasir tinggi (65-96 %). Reaksi tanah menunjukkan masam ekstrem sampai sangat masam (pH 3,3 – 4,9) di seluruh lapisan tanah, cenderung menaik kelapisan bawah. Pada permukaan tanah, bisasanya terdapat lapisan bahan organik (Oi dan Oe) tipis (5-10) cm dan dibawahnya terdapat Horizon Al dengan kandungan bahan organik termasuk sedang sampai tinggi (3,1 – 9,5)%. Langsung dibawah horizon ini terdapat horizon E, berwarna putih dan putih kekelabuan, dengan kandungan bahan organik dangat rendah (0,2 – 0,95) %. Rasio C/N tergolong tinggi (16-35).
Kandungan P dan K-potensial di lapisan atas dan dilapisan bawah, sangat rendah sampai rendah. Jumlah basa-basa dapat ditukar termasuk sangat rendah (0,2-1,2 cmol (+)/kg tanah). Kandungan kedua unsur hara ini dilapisan serasah, selalu lebih tinggi dari pada lapisan bawah yang berpasir. KTK tanah sebagian besar sangat rendah dilapisan pasir, dan agak tinggi sampai tinggi pada lapisan serasah dan di horizon Bs (sesquioksida). KB semuanya sangat rendah sampai. Potensi Kesuburan alami Spodosol dengan demikian disimpulkan sangat rendah sampai rendah penggunaan tanah.
Oleh karena bahan induknya berupa endapan pasir atau batu pasir kuarsa (SiO2), Spodosol umumnya sangat miskin atau sangat rendah kesuburan alaminya. Spodosol yang paling sering ditemukan dan dimanfaatkan untk pertanian adalah Hoplorthods dan Aquods. Di beberapa daerah pemukiman transmigrasi dikalimantan tengah, kalimantan barat dan kalimantan timur yang dimanfaat untuk pertanian tanaman pangan umumnya adalah Aquods yang dibuka untuk sawah rawa, dan Hoplorthods sebagai lahan pertanian kering dan tegalan. Namun kesuburan alami yang sangat rendah sesudah 1-2 tahun tidak menghasilkan panen sehingga ditinggalkan atau tidak ditanam lagi. Untuk tanaman perkebunan, khusunya kelapa sawit yang relatif masih sesuai adalah Hoplorthods yang mempunyai tekstur agak halus (lempung berpasir sampai pasir berlempung), tetapi tentunya memerlukan pemupukan yang tinggi.
F.     ALFISOL
Tanah yang termasuk ordo Alfisol merupakan tanah-tanah yang terdapat penimbunan liat di horison bawah (terdapat horison argilik)dan mempunyai kejenuhan basa tinggi yaitu lebih dari 35% pada kedalaman 180 cm dari permukaan tanah. Liat yang tertimbun di horison bawah ini berasal dari horison di atasnya dan tercuci kebawah bersama dengan gerakan air. Padanan dengan sistem klasifikasi yang lama adalah termasuk tanah Mediteran Merah Kuning, Latosol, kadang-kadang juga Podzolik Merah Kuning.
ü  Pembentukan tanah
Dua prasyarat yang diperlukan Alfisol adalah:
1. Mineral liat Kristalin sedang jumlahnya
2. Terjadi akumulasi liat di horizon B yang jumlanya memenuhi syarat horizon agrilik, atau kandik.
Keadaan lingkungan yang memungkinkan terbentuknya horizon spodik, molilik, atau horizon lain atau horizon lain yang bukan agrilik tidak didapat. Alfisol ditemukan di banyak zone iklim, tetapi yang utama adalah di daerah beriklim sedang yang bersifat humid atau ubhumid, dengan bahan induk relatif muda dan stabil paling sedikit selama beberapa ribu tahun. Oleh karena itu Alfisol adalah tanah yang relative muda, masih banyak mengandung mineral primer yang mudah lapuk, mineral liat kristalin dan kaya unsur hara. Di daerah tropika ditemukan di tempat yang lebih muda dari pada daerah-daerah Ultisol dan Oxisol, atau di tempat-tempat dengan bahan induk mafic.
Alfisol ditemukan di daerah-daerah datar sampai berbukit. Proses pembentukan alfisol di Iowa memerlukan waktu 5000 tahun (Arnold dan Riecken, 1964) karena lambatnya proses akumulasi liat untuk membentuk hodison agrilik. Alfisol terbentuk di bawah vegetasi hutan berdaun lebar (deciduous). Proses pembentukan Alfisol melalui urutan sebagai berikut:
1. Pencucian karbonat
Pencucuian karbonat dan braunifikasi merupakan prasyarat untuk pembentukan Alfisol. Kalsium Karbonat (dan bikarbonat) merupakan flocculant yang kuat sehingga dalam pembentukan Alfisol, karbonat perlu dicuci lebih dulu agar plasma menjadi lebih mudah bergerak bersama dengan perkolasi. Dengan pencucian karbonat ini tanah menjadi lebih masa, kadanag-kadang sampai mencapai pH 4,5.
2. Pencucian besi
Besi sebagai flocculant dengan kekuatan sedang mengalamai pencucuian setelah karbonat, dan diendapkan di horizon B, sehingga warna tanah menjadi coklat (braunification).
3. Pembentukan epipedon okhrik (horison A1)
Bahan organik tidak tercampur terlalu dalam dengan bahan mineral, karena akar-akar halus tanaman hutan tidak terlalu banayak masuk ke dalam tanah seperti padang rumput. Bahan organik yang terdapat di permukaan tanah dicamur dengan bahan mineral oleh cacing atau hewan-hewan lain, pada kedalaman 2 – 10 cm, sehingga terbentuk lapisan mull (horizon A1). Proses biocycling unsure hara dan basa-basa dari subsoil ke horizon O dan A1 merupakan proses yang penting untuk tanah Udalf. Hal ini dapat menyebabkan reaksi tanah di subsoil menjadi masam (pH 4,8 – 5,8).
4. Pembentukan horizon albik
Beberapa jenis ALfisol memiliki horizon E yang jelas berwarna pucat yang disebut horizon albik. Horizon ini terbentuk sebagai akibat pencucian liat dan bahan organic, sedang proses mineralisasi sedikit sekali terjadi. Pecucian liat terjadi secara mekanik (lessivage) bersama air perkolasi. Horizon albik kadang-kadang juga mengandung cukup banyak bahan organic tetapi tidak berwarna (Wilde, 1950). Mineral-mineral resisten seperti kuarsa menjadi lebih banyak di horizon A dan rasio SiO2/R2O3 menjadi lebih besar dari Bt.
5. Pengendapan argillan
Terjadinya pengendapanliat bersama seskuioksida dan bahan organic di horizon Bt disebabkan oleh beberapa hal, yaitu:
a. Air perkolasi tidak cukup banyak sehingga tidak dapat meresap lebih jauh ke dalam tanah.
b. Butir-butir tanah yang mengembang, menutup pori-pori tanah sehingga air perkolasi lambat bergerak.
c. Penyaringan oleh pori-pori halus yang tersumbat.
d. Plokulasi liat bermuatan negatif oleh besi oksida yang bermuatan positif di horizon Bt dan oleh kejenuhan basa yang lebih tinggi di bagian solum. Curah hujan yang tinggi setelah kemarau panjang mendorong pembentukan Alfisol. Pada beberapa jenis Alfisol, liat di horizon argilik terbentuk in situ dari pelapukan bahan induk.
ü  Karakteristik/Sifat Tanah
Tanah alfisol memiliki tekstur tanah yang liat. Liat tertimbun di horizon bawah. Ini berasal dari horizon diatasnya dan tercuci dibawah bersama dengan gerakan air. Dalam banyak pola Alfisol digambarkan adanya perubahan tekstur yangsangat pendek di kenal dalam taksonomi tanah sebagai Ablup Tekstural Change atau perubahan tekstur yang sangat ekstrim. (Foth, 1998).Partikel tanah liat pada lapisan Alfisol digerakkan oleh air yang meresap darihorizon A dan disimpan pada horizon B.
Hasilnya adalah polipodeon dengan horizon-horison yang mempunyai tekstur yang berbeda. Macam pita yang terbentuk berhubungan dengan kandungan liat dan diguakan untuk menggolongkan tanah lempung, lempung liat atau tanah liat. (Poerwowidodo, 1991). Alfisol adalah tanah-tanah dimana terdapat penimbunan liat di horizon bawah(horizon argilik) dan mempunyai kejenuhan basa tinggi yaitu lebih dari 35 % padakedalaman 180 cm dari permukaan tanah. Bila kejenuhan basa sangat tinggi makamakin ke bawah jumlahnya konstan, sedang bila pada horizon Argilik kadarnya tidak tinggi maka jumlahnya harus bertambah makin ke horizon bawah. Tanah ini tidak memiliki epipedon molik, oxik, ataupun horizon spodik. Juga termasuk pada tanahAlfisol adalah tanah-tanah yang kejenuhan basanya kurang 35 % tetapi pada horizonArgilik dipadatan lidah-lidah horizon albik dan kejenuhan basa bertambah makin kehorizon bawah. (Hakim, 1986).
ü  PengelolaanTanah
Potensi
Pada dasarnya tanah ini dapat dimanfaatkan untuk usaha pertanian. Tapi karena mempunyai kemiringan yang ekstrim curam maka daerah ini hanya perlu di tanami tanaman keras (tanaman keras) seperti pohon jati, pinus atau cemara untuk mengantisipasi adanya erosi yang cukup berat.
Permasalahan
Tanah alfisols termasuk tanah yang masih muda dan perkembangan tanah belum lama, sehingga kandungan bahan organik dan unsur hara dalam tanah kurang tersedia, maka solumnya dangkal (10-15 cm) dari permukaan dan di bawahnya merupakan lapisan batuan. Rendahnya kedalaman solum menyebabkan perkembangan akar terhambat sehingga tanaman kurang baik pertumbuhannya. Topografi daerah ini yang ekstrim curam menyebabkan rawan terhadap erosi karena tanah aluvial ini kemampuan untuk mengikat air cukup rendah.
Perbaikan
Dalam mengatasi lajunya erosi di daerah ini dilakukan konservasi dengan melakukan sistem pertanian agroforesty dengan menanam tanaman tahunan dengan disisipi oleh tanaman pangan seperti tanaman legume (kacang-kacangan ) sebagai tanaman penutup lahan sehingga erosi dapat ditekan. Dengan penambahan sisa organik dapat meningkatkan kelengasan tanah karena sisa organik yang terdekomposisi menjadi bahan organik mempunyai kemampuan menyerap air yang tinggi dan dapat menahan laju erosi tanah karena air terserap oleh bahan organik.
G.    ULTISOL
Ultisol hanya ditemukan di daerah-daerah dengan suhu tanah rata-rata lebih dari 8˚C. Ultisol adalah tanah dengan hormon argilik atau kardik bersifat masam dengan kejenuhan basa rendah. Kejenuhan basa (jumlah kation) pada kedalaman 1,8 m dari permukaan tanah kurang dari 35%.
Tanah ini umumnya berkembang dari bahan induk tua. Di Indonesia banyak ditemukan di daerah dengan bahan induk batuan liat. Tanah ini merupakan bagian terluas dari lahan kering di Indonesia yang belum dipergunakan untuk pertanian. Terdapat tersebar di daerah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Irian jaya. Daerah-daerah ini direncanakan sebagai daerah perluasan areal pertanian dan pembinaan transmigrasi. Sebagian besar merupakan hutan tropika dan padang alang-alang. Problema tanah ini adalah reaksi masam, kadar Al tinggi sehingga menjadi racun tanaman dan menyebabkan fksasi P, unsur hara rendah, diperlukan tindakan pengapuran dan pemupukan.
ü  Proses Pembentukan Tanah
Proses pembentukan tanah Ultisol meliputi beberapa proses sebagai berikut :
proses sebagai berikut :
1. Pencucuian yang ekstensif terhadap basa-basa merupakan prasyarat. Pencucian berjalan sangat lanjut sehingga tanah bereaksi masam, dan kejenuhan basa rendah sampai di lapisan bawah tanah (1,8 m dari permukaan).
2. Karena suhu yang cukup panas (lebih dari 8˚C) dan pencucian yang kuat dalam waktu yang cukup lama, akibatnya adalah terjadi pelapukan yang kuat terhadap mineral mudah lapuk, dan terjadi pembentukan mineral liat sekunder dan oksida-oksida. Mineral liat yang terbentuk biasanya didominasi oleh kaolinit, dan gibsit.
3. Lessivage (pencucian liat), menghasilkan horison albik dilapisan atas (eluviasi), dan horison argilik dilapisan bawah (iluviasi). Sebagian liat di horison argilik merupakan hasil pembentukan setempat (in situ) dari bahan induk.Di daerah tropika horison E mempunyai tekstur lebih halus mengandung bahan organik dan besi lebih tinggi daripada di daerah iklim sedang.
Bersamaan dengan proses lessivage tersebut terjadi pula proses podsolisasi dimana sekuioksida (terutama besi) dipindahkan dari horison albik ke horison argilik.
Biocycling
Meskipun terjadi pencucian intensif tetapi jumlah basa-basa di permukaan tanah cukup tinggi dan menurun dengan kedalaman. Hal ini disebabkan karena proses Biocycling basa-basa tersebut oleh vegetasi yang ada di situ.
5.      Pembentukan plinthite dan fragipan.
Plinthite dan fragipan bukan sifat yang menentukan tetapi sering ditemukan pada Ultisol. Biasanya ditemukan pada subsoil di daerah tua.
Plinthite : Terlihat sebagai karatan berwarna merah terang. Karatan ini terbentuk karena proses reduksi dan oksidasi berganti-ganti. Kalau muncul di permukaan menjadi keras irreversibie dan disebut laterit. Karatan merah yang tidak mengeras kalau kering berlebihan bukanlah plithit.
Plinthite ditemukan mulai kedalaman yang dipengaruhi oleh fluktuasi air tanah. Hanya plinthite yang dapat menghambat drainase yang dalam Taksonomi Tanah (yaitu mengandung 10-15 persen volume atau lebih plinthite = Plinthaquult).
Fragipan : Pada Ultisol drainase buruk, seperti halnya plinthite, fragipan menghambat gerakan air dalam tanah. Proses pembentukan fragipan masih belum jelas.
6.      Perubahan horison umbrik menjadi mollik
Ultisol dengan epipedon umbrik (Umbraquult) dapat berubah menjadi epidedon mollik akibat pengapuran. Walaupun demikian klasifikasi tanah tidak berubah selama lapisan-lapisan yang lebih dalam mempunyai kejenuhan basa rendah. Control Sectiori untuk kejenuhan basa ditetapkan pada kedalaman 1,25 m dari permukaan horison argilik atau 1,80 m dari permukaan tanah (kejenuhan basa kurang dari 35%). Hal ini disebabkan untuk menunjukan adanya pencucian yang intensif dan agar klasifikasi tanah tidak berubah akibat pengelolaan tanah.
ü  Penggunaan Tanah Ultisol
Ultisol merupakan daerah luas di dunia yang masih tersisa untuk dikembangkan sebagai daerah pertanian. Air di daerah ini umumnya cukup tersedia dari curah hujan tinggi. Banyak merupakan daerah perladangan petani primitif. Biasanya memberi produksi yang baik pada beberapa tahun pertama, selama unsur-unsur hara di permukaan tanah yang terkumpul melalui proses biocycle belum habis. Reaksi tanah yang masam, kejenuhan basa rendah, kadar Al yang tinggi, kadar unsur hara yang rendah merupakan penghambat utama untuk pertanian. Untuk penggunaan yang baik diperlukan pengapuran, pemupukan dan pengelolaan yang tepat.
Penggunaan sebagai hutan dapat mempertahankan kesuburan tanah karena proses recycling. Basa-basa tercuci ke bagian bawah tanah, diserap oleh akar-akar tanaman hutan dan dikembalikan ke permukaan melalui daun-daun yang gugur. Bila hutan ditebang, maka tanaman semusim atau alang-alang tidak dapat melakukan recycle basa-basa (unsur hara) karena akar-akarnya tidak dalam.
ü  Horison-Horison  Diagnotik
I. Epipedon
1. Molik :
a. ketebalan : - > 10 cm jika menumpang pada batuan keras
- 1/3 tebal belum jika solum tidak tebal
- 25 cm jika solum tebal
b. tidak keras sekalipun kering (gambar – agak teguh)
c. Kroma warna < 3,5, volume > 3,5
d. V > 50% 
e. B.O. > 1%, tapi < 20% jika pasiran, atau < 30% jika lempungan 
f. P2O5 larut asam sitrat < 250 ppm
g. Struktur berkembang nyata
2. Anthopik :
a. seperti mollik, tetapi
b. kadar fosfat tinggi karena pengolahan dan pemupukan (anthropos = manusia)
3. Histik :
a. horizon organik (histos = jaringan)
b. tebal > 1 kaki ( 30 cm)
c. sering jenuh air
4. Ochric :
a. warna lebih muda (ochros = pucat, warna muda)
b. kadar, b.o. lebih rendah
c. lebih tipis dari mollic, umbric, anthropic atau histic
d. keras dan pejal waktu kering
5. Plaggen :
a. Mengandung seresah, pupuk kandang dan sampah usaha tani 
b. tebal > 50 cm
c. pengaruh pengolahan tanah yang lama 
(plaggen = sod = tanaman sisa-sisa rumput)
6. Umbrik :
a. warna tua (umbra = peneduh warna tua)
b. sepeti mollik, tetapi jenuh hidrogen (H+)
sehingga nilai V rendah ( < 50% )
II. Endopedon :
1. Kambik :
a. Struktur granuler gumpal atau tiang, bercampur dengan yang masih memperlihatkan struktur batuan induk.
b. Mengandung mineral terlapukkan, termasuk alofan atau kaca volkan (vitrik) (cambiare = menukar)
c. KPK di atas 16 me%
d. Belum ada iluviasi lempung, seskuioksida & B.O
e. Tidak tampak selaput lempung pada gumpalan/butir tanah
f. Tidak dapat berkembang dalam bahan pasir ( terbentuk oleh reaksi fisika atau kimia)
2. Agric :
a. Pengumpulan G.O & lempung langsung di bawah lapangan olah 15% vol tanah (agr = lapangan)
3. Albic :
a. Lempung & oksida besi telah terlundi sehingga meninggalkan pasir dan debu warna muda. (albus = putih) 
b. Biasanya dialasi oleh spodik atau orgilic
4. Argilik :
Horison argilik merupakan horison atau lapisan tanah yang terbentuk. akibat terjadi akumulasi liat.
a. Berhorizon B lempung illuvial (orgilla = lempung putih)
b. Berselaput lempung pada permukaan gumpal tanah 
5. Galcic :
a. Perkayaan CaCO3 sekunder atau CaCO3+ MgCO3 sekunder (calcic = kapur)
b. Kadar CaCO3 setara > 15% bila tebal > 15 cm
Kadar CaCO3 setara > 5% dari horizon C (notric = natrium)
6. Natrik : Seperti argilic, tetapi : 
a. Berstruktur kolumner / prismatik
b. Ber Na tertukar 15%
c. pH > 8,5
7. Oksik :
a. Pengumpulan besi oksida dan/atau Al oksida terhidrat
b. Berlempung kaolinit (kisi 1:1) (oksik : oksida)
c. Tak berselaput lempung
d. pH (KCl) pH – H2O
8. Spodik :
a. Berhorizon B dengan pengumpulan humus/seskuioksida
b. Tak ada pengumpulan lempung & selaput lempung
c. Dapat merekat menjadi padas (orstein)
(spodos = abu kayu)
9. Duripan :
a. Terekat oleh silika berbentuk kristal mikro sehingga fragmen-fragmen kering tak mau menjadi bubur bila direndam (durus = keras)
b. Sering mengandung semen tambahan berupa oksida besi dan CaCO3 sehingga warna beraneka 
10. Fragipan (tragilis = rapuh) :
Fragipan : Padas di bawah horison spodik dengan sementasi lemah hingga rapuh (mudah pecah). Bahan-bahan halus menngisi pori-pori sehingga bulk destiny meningkat menjadi 1,92 gr/cc (Hole et al 1962). Bahan perekatnya Si atauAl.
a. BV lebih tinggi dari horizon di atasnya
b. Keras bila kering tetapi rapuh bila lembab 
11. Gypsic(gypsum = gips) :
a. Kadar gips > 35% dari jumlah karbonat + gips 
b. Jumlah karbonat + gips > 40% berat tanah halus total ( 2mm)
12. Petrocalcic (petra = batuan) :
a. Horizon calcic yang memadas dan berbentuk tidak terputus-putis
13. Petrogypsic :
a. Horizon gipsic yang memadas dan tidak terputus-putus 
14. Placic (plox = batu pipih) :
a. Padas tipis berwarna hitam sampai merah tua
b. Terekat oleh besi
c. Tebal 2mm – 10 mm
15. Salic (sal = garam) :
a. Kadar garam terlarut sangat tinggi
b. DHL 1mmhO 3000 ppm
c. Kadar Na tertukar < 8,5 dalam ekstrak jenuh air
16. Sulfuric (Sulfureouse) :
a. Mengandung besi sulfat jika pH oksidasi < 3,5
b. Mengandung polisulfida > 0,75% jika mengandung kurang dari 3x kadar CaCO2 setara (hanya untuk histosol & aquent cat day)

ü  Tanah Tidak Diagnotik
1.      Durinode (durus = keras, nodus = simpul) :
Nodula yang terekat lemah sampai memadas 
terurai di dalam KOH pekat (+HCl untuk hilangkan karbonat) tidak terurai dengan HCl p saja.
- Bahan semennya SiO2
- Bila kering berkonsistensi teguh – sangat teguh & rapuh bila basah
- Bila direndam air tidak melumpur
- Berbentuk sebagai konkresi (laporan konsentrik) dengan ukuran 1 cm



2.      Gilgai & Slicken-side :
Bentuk muka tanah dengan pola tumbuhan yang terdiri bukit/pematang kecil dan cekungan dangkal – sempit sebagai akibat dari proses kembang kerut lempung. 
3.      Kontak lithic (eithos = batu) :
Batas antara tanah dengan bahan padu dan tidak terputus-putus yang terdapat di bawahnya. 
- Bahan harus cukup padu dalam keadaan lembab
tidak dapat digali dengan skop
- Bila mineral tunggal, kekerasan 6
- Bila bukan mineral tunggal, bongkah-bongkah tercabik tidak terdispersi dalam penggojokan 15 jam dalam air/calgon
- Bahan padunya tidak mencakup horizon-horizon tanah diagnostik seperti duripon/petrocalcic
4. Kontak poralithic :
- Mirip kontak lithic, tapi kekerasannya < 3 atau alami pendispersian sedikit. 
- Bila lembab dapat diskop, meski sulit
- Bahan padu berupa sedimen yang alami perpaduan sebag seperti batu pasir, batuan debu atau shale (serpih), BV < 2 
5. Plinthile (plinthos : batubata)
- Campuran terlapuk dari lempung, kwarsa & kotoran
- Kaya seskuioksida
- Miskin humus
- Berbecak-becak merah, dapat didispersi
- Berpola pipih/jaring
- Merupakan bahan yang tidak memadas
- Irreversibel menjadi padas besi, agregate tak teratur
- Konsistensi teguh (kap lap) dan keras (titik layu)
- Proses kimiawi : oksidasi dan dekarbonatasi
• Oksidasi : karena udara mengalir lewat retakan, b.o. teroksidasi dan warna kelabu kebiruan kecoklat karena oksidasi senyawa besi.
- oksidasi dipercepat oleh jazad renik pengoksidasi besi sehingga warna merah cepat timbul (pada lap atas yang tipis)
- senyawa pirut (FeS2) pada lumpuran lempung payau teroksidasi menjadi asam sulfa

ü  Horison Dan Lapisan Utama
1.      Horizon organik :
O : horizon organik dari tanah mineral 
a. terbentuk pada bagian atas tanah mineral
b. dirajai oleh bahan-bahan organik segar/terurai sebagian
c. berkadar BO 30% jika berfraksi lempung 50%, 20% jika berfraksi bukan lempung
O1¬ : horizon organik yang sebagian besar bagian-bagiannya masih jelas menampakkan bentuk asli. 
O2 : horizon organik yang sudah tidak tersidik bentuk asli asalnya. 
2.      Horizon mineral
A : horizon mineral yang terdiri atas :
a. horizon pengumpulan b.o yang terbentuk dekat permukaan 
b. lap yang telah kehilangan lempung, besi atau aluminium yang mengakibatkan pengumpulan kwarsa atau mineral 
c. horizon yang dirajai (a) atau (b) tapi memperlihatkan sifat ke horison B atau C dibawahnya. 
A1 : terbentuk/sedang terbentuk pada/dekat muka tanah dengan penimbunan b.o. terhumofikasi yang berhubungan dengan fraksi mineralnya. 
A2 : berciri pokok hilangnya lempung, besi atau aluminium sehingga terjadi pemekatan residuil kwarsa.
A3 : horizon peralihan antara A dan B dan dirajai oleh sifat-sifat khas A¬¬1 dan A2 yang menumpanginya, tapi mempunyai beberapa sifat tambahan dari horizon B di bawahnya. 
AB : peralihan antara A dan B, yang bagian atas berciri utama sifat-sifat A, dan bagian bawah seperti horizon B.
Keduanya tidak bisa dipisahkan menjadi A3 dan B1 biasanya karena terlalu tipis, bila tebal harus dipisahkan. 
B : Ciri-ciri utamanya
a. pemekatan illuvial lempung silikat, besi, Al/humus baik sendiri-sendiri maupun kombinasi.
b. Pemekatan residuil seskudesido atau lempung silikat dengan pelarutan/penghilangan karbonat-karbonat/garam-garam mudah larut. 
c. Terjadi pelarutan seskuidesida sehingga berwarna lebih tua, cemerlang atau lebih merah tapi tak ada iluviasi besi.
d. Perobahan bahan dari keadaan aslinya yang mengaburkan struktur batuan asli, yang membentuk lempung-lempung silikat, membebaskan desida-desida atau keduanya dan membentuk struktur granuler, gumpal atau prismatik. 
B1 : peralihan antara B dan A1 atau B dan A2 yang dikuasai oleh sifat-sifat B2 di bawahnya, tapi bersifat tambahan dari A¬¬1¬ atau A2. 
B2 : bagian dari horizon B dengan sifat-sifat paling murni, tanpa menunjukkan sifat peralihan ke A, C atau R. 
B3 : peralihan antara B dan C atau R dengan sifat-sifat diagnostik B2 tapi berkaitan dengan sifat-sifat khas C atau R. 
C : mirip dengan bahan yang dianggap bahan asal solum, relatif sedikit kena proses pendogenesa dan tak mempunyai sifat-sifat yang diagnostik A atau B, dengan sifat-sifat :
a. Pelapukan di luar daerah kegiatan biologi utama
b. Sementasi dapat balik, merapuh, BU meninggi sifat khas/fragipan.
c. Gleisasi
d. Pengumpulan Ca atau Mg karbonat/garam mudah larut
e. Sementasi oleh Ca atau Mg karbonat/garam mudah larut
f. Sementasi oleh bahan kersik larut alkali atau oleh besi dan silika
g. Mencakup semua horizon/laporan yang terbentuk tanpa faktor biologi
R : batuan dasar pada yang ditumpangi, seperti : granit, batuan pasir atau
gamping.
A&B: bersyarat A2 tetapi disisipi B sebanyak 50% volume 
AC : bersyarat maupun C tanpa ada yang merajai.
B&A: horizon bersyarat B pada lebih dari 50% volnya dan mencakup bagian-bagian yang bersyarat A2.
- mampunyai lidah-lidah tegak A2
- mempunyai pita-pita horizontal A2¬ diantara pita-pita B yang lebih tebal
ü  Ciri Morfologi
Pada umumnya Ultisol berwarna kuning kecoklatan hingga merah. Pada klasifikasi lama menurut Soepraptohardjo (1961), Ultisol diklasifikasikan sebagai Podsolik Merah Kuning (PMK). Warna tanah pada horizon argilik sangat bervariasi dengan hue dari 10YR hingga 10R, nilai 3−6 dan kroma 4−8 (Subagyo et al. 1986; Suharta dan Prasetyo 1986; Rachim et al. 1997; Suhardjo dan Prasetyo 1998; Alkusuma 2000; Isa et al. 2004; Prasetyo et al. 2005).Warna tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain bahan organik yang menyebabkan warna gelap atau hitam, kandungan mineral primer fraksi ringan seperti kuarsa dan plagioklas yang memberikan warna putih keabuan, serta oksida besi seperti goethit dan hematit yang memberikan warna kecoklatan hingga merah. Makin coklat warna tanah umumnya makin tinggi kandungan goethit, dan makin merah warna tanah makin tinggi kandungan hematit (Eswaran dan Sys 1970; Allen dan Hajek 1989; Schwertmann dan Taylor 1989).
Tekstur tanah Ultisol bervariasi dan dipengaruhi oleh bahan induk tanahnya. Tanah Ultisol dari granit yang kaya akan mineral kuarsa umumnya mempunyai tekstur yang kasar seperti liat berpasir (Suharta dan Prasetyo 1986), sedangkan tanah Ultisol dari batu kapur, batuan andesit, dan tufa cenderung mempunyai tekstur yang halus seperti liat dan liat halus (Subardja 1986; Subagyo et al. 1987; Isa et al. 2004; Prasetyo et al. 2005). Ultisol umumnya mempunyai struktur sedang hingga kuat, dengan bentuk gumpal bersudut (Rachim et al. 1997; Isa et al. 2004; Prasetyo et al. 2005).
Komposisi mineral pada bahan induk tanah mempengaruhi tekstur Ultisol. Bahan induk yang didominasi mineral tahan lapuk kuarsa, seperti pada batuan granit dan batu pasir, cenderung mempunyai tekstur yang kasar. Bahan induk yang kaya akan mineral mudah lapuk seperti batuan andesit, napal, dan batu kapur
cenderung menghasilkan tanah dengan tekstur yang halus.
Ciri morfologi yang penting pada Ultisol adalah adanya peningkatan fraksi liat daslam jumlah tertentu pada horizon seperti yang disyaratkan dalam Soil Taxonomy (Soil Survey Staff 2003). Horizon tanah dengan peningkatan liat tersebut dikenal sebagai horizon argilik. Horizon tersebut dapat dikenali dari fraksi liat hasil analisis di laboratorium maupun dari penampang profil tanah. Horizon argilik umumnya kaya akan Al sehingga peka terhadap perkembangan akar tanaman, yang menyebabkan akar tanaman tidak dapat menembus horizon ini dan hanya bserkembang di atas horizon argilik
H.    OXISOL
Tanah adalah lapisan permukaan bumi yang berasal dari bebatuan yang telah mengalami serangkaian pelapukan oleh gaya-gaya alam, sehingga membentuk regolit (lapisan partikel halus)
Salah satu sistem klasifikasi tanah yang telah dikembangkan Amerika Serikat dikenal dengan nama: Soil Taxonomy (USDA, 1975). Sistem klasifikasi ini menggunakan enam (6) kategori, yaitu:
1.Ordo
2.Subordo
3.Greatgroup
4.Subgroup
5.Family
6.Seri
Sistem klasifikasi tanah ini berbeda dengan sistem yang sudah ada sebelumnya. Sistem klasifikasi ini memiliki keistimewaan terutama dalam hal:
1. Penamaan atau Tata Nama atau cara penamaan.
2. Definisi-definisi horison penciri.
3. Beberapa sifat penciri lainnya.
Oxisol menduduki rangking kelima di bumi, golongan ini berasal dari bahasa Prancis, Oxide yang berarti Oksida. Semua tanah yang memiliki horizon oksida, tergolong oxisol.Oxisol menurut system klasifikasi tanah 1949 meliputi tanah lateritik, Lastosol, dan laterit air tanah (Ground Water Laterite). Golongan tanah oxisol tersebar di daerah tropika dan paling luas di Afrika dan di Amerika Selatan.
Sub-order dari tanah oxisol adalah sebagai berikut:
1) Aquox, Aqua + ox isol, berasal dari Latin Aqua, air. Khas en hubungannya dengan perariran.
2) Humox, Hum us + ox isol, dari kata Yunani, Humus, bun
Artinya: Oxisol yang mengandung bahan organic
3) Orthox, Ortho os + ox isol, orth dari bahasa Yunani; ortho benar. Artinya oxisol biasa
4) Ustox, ust us + ox isol, Ust dari bahasa Latin ustus, terbakar. Oxisol terdapat pada region iklim kering, biasa musim panas yang kering.
5) Torrox, torr idus + ox isol. Torr berasal dari bahasa Latin torrid us, panas, kering. Artinya biasa kering.
Tanah oxisol memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
- Warna tanahnya merah hingga kuning, sehingga sering disebut tanah merah.
- Tanah latosol yang mempunyai sifat cepat mengeras bila tersing kap atau berada di udara terbuka disebut tanah laterit.
- kejenuhan basa kurang dari 50 %, umumnya mempunyai epipedon kambrik dan horison kambik.
- mengalami pencucian dan pelapukan lanjut, berbatas horizon baur, sehingga kandungan mineral primer dan unsure hara rendah,
- konsistensi gembur dengan stabilitas agregat kuat dan terjadi penumpukan relative seskwioksida di dalam tanah akibat pencucian silikat.
- Tanah dengan kadar liat lebih dari 60 %, remah sampai gumpal, gembur, warna tanah seragam dengan dengan batas-batas horison yang kabur, solum dalam (lebih dari 150 cm).
Tanah Alfisol, Ultisol dan Oxisol termasuk kelompok tanah merah (Soepraptohardjo, 1961; dalam Buurman, 1980), bahan induk bersifat masam hingga ultra basa.
Ketersediaan unsur P dan K di tanah Oxisol sangat rendah, sebagai akibat dari pelapukan lanjut, dan terikat menjadi bentuk yang tidak tersedia untuk tanaman, yaitu Fe- P, Al-P, FeAl-P dan bentuk lainnya.
Tanah oxisol banyak digunakan untuk perladangan, pertanian subsisten pengembalaan dengan intensitas rendah, dan perkebunan yang intensif seperti perkebunan tebu, nanas, pisang dan kopi.
Upaya pemanfaatan tanah Oxisol secara optimal, khususnya untuk pengembangan tanaman kelapa sawit memerlukan pemahaman yang tepat dan menyeluruh mengenai karakteristik tanah tersebut. (studi di Perkebunan Pelaihari Kalimantan Selatan pada Maret 2002). Pemanfaatan tanah Oxisol untuk pengembangan kelapa sawit, khususnya di kebun Pelaihari, harus diikuti dengan upaya untuk memperbaiki tingkat kesuburan tanah. Upaya tersebut di antaranya adalah penanaman tanaman kacangan penutup tanah, pemupukan, dan aplikasi bahan organik
Daerah penyebaran Oxisol adalah daerah tropis dengan curah hujan tinggi (2000-7000 mm/tahun), terbentuk di daerah tuf, abu atau fan vulkanik yang telah mengalami pelapukan lanjut, dengan bentuk wilayah berombak, bergelombang, berbukit hingga bergunung serta pada ketinggian 10 sampai 1000 m dari permukaan laut (Sarief:1985).
Terdapatnya penyebaran tanah Oxisol ini pada ketinggian 10 sampai 1000 m dpl, berarti tanah oxisol dapat ditemui di dataran rendah (0-600 m dpl) maupun di dataran tinggi (>600 m dpl), sehingga sangat besar kemungkinan sifat-sifat fisika tanah pada kedua macam daerah akan berbeda pula. Sebab perbedaan sifat fisika tanah sangat dipengaruhi oleh perbedaan faktor-faktor pembentuk tanah seperti iklim, bahan induk, topografi, organisme dan waktu (Buol, Hole, Cracken, 1980)
Ciri-ciri :
A. solum yang dangkal, kurang dari 1 meter
B. kaya akan seskuioksida yang telah mengalami pelapukan lanjut
C. adanya horizon oksik pada kedalaman kurang dari 1,5 m
D. susunan horison A, B, dan C dengan horizon B spesifik berwarna merah kuning sampai kuning coklat dan bertekstur paling halus liat
E. mengandung konkresi Fe/Mn lapisan kuarsa.
Banyak digunakan untuk perladangan, pertanian subsisten pengembalaan dengan intensitas rendah, dan perkebunan yang intensif seperti perkebunan tebu, nanas, pisang dan kopi.
I.        VERTISOL
Tanah Vertisol memiliki kapasitas tukar kation dan kejenuhan basa yang tinggi. Reaksi tanah bervariasi dari asam lemah hingga alkaline lemah; nilai pH antara 6,0 sampai 8,0. pH tinggi (8,0-9,0) terjadi pada Vertisol dengan ESP yang tinggi (Munir, 1996).
Vertisol menggambarkan penyebaran tanah-tanah dengan tekstur liat dan mempunyai warna gelap, pH yang relatif tinggi serta kapasitas tukar kation dan kejenuhan basa yang juga relatif tinggi. Vertisol tersebar luas pada daratan dengan iklim tropis dan subtropis (Munir, 1996).
Dalam perkembangan klasifikasi ordo Vertisol, pH tanah dan pengaruhnya tidak cukup mendapat perhatian. Walaupun hampir semua tanah dalam ordo ini mempunyai pH yang tinggi, pada daerah-daerah tropis dan subtropis umumnya dijumpai Vertisol dengan pH yang rendah. Dalam menilai potensi Vertisol untuk pertanian hendaknya diketahui bahwa hubungan pH dengan Al terakstraksi berbeda disbanding dengan ordo lainnya. pH dapat tukar nampaknya lebih tepat digunakan dalam menentukan nilai pH Vertisol masam dibanding dengan kelompok masam dari ordo-ordo lainnya. Perbedaan tersebut akan mempunyai implikasi dalam penggunaan tanah ini untuk pertumbuhan tanaman. Batas-batas antara antara kelompok masam dan tidak masam berkisar pada pH 4,5 dan sekitar 5 dalam air (Lopulisa, 2004).
Proses pembentukan tanah ini telah menghasilkan suatu bentuk mikrotopografi yang khusus yang terdiri dari cekungan dan gundukan kecil yang biasa disebut topografi gilgai. Kadang-kadang disebut juga topografi polygonal (Hardjowigeno, 1993).
Koloid tanah yang memiliki muatan negetif besar akan dapat menjerap sejumlah besar kation. Jumlah kation yang dapat dijerap koloid dalam bentuk dapat tukar pH tertentu disebut kapasitas tukar kation. KTK merupakn jumlah muatan negatif persatuan berat koloid yang dinetralisasi oleh kation yang muda diganti(Pairunan,dkk,1997).
Tanah-tanah dengan kandungan bahan organik atau dengan kadar liat tinggi mempunyai KTK lebih tinggi dari pada  tanah-tanah dengan kandungan bahan organik rendah atau tanah-tanah berpasir. Jenis-jenis mineral liat juga menentuka besarnya KTK tanah (Hakim,dkk,1986).
Pada umumnya  Vertisol juga defisiensi P. Setelah N, unsure P merupakan pembatas hara terbesar pada Vertisol. Kekurangan unsure P jika kandungan P kurang dari 5 ppm. Ini berpengaruh pada pemupukan P yang cukup kecil jika produksi tanaman pada musim berikutnya rendah. P menjadi nyata jika tanaman yang tumbuh pada kondisi irigasi yang baik, jika produksinya tinggi maka dianjurkan untuk mencoba menambah pemakaian pupuk N (Munir, 1996).
Kadar fosfor Vertisol ditentukn oleh banyak atau sedikitnya cadangan mineral yang megandung fosfor dan tingkat pelapukannya. Permasalahan fosfor ini meliputi beberapa hal yaitu peredaran fosfor di dalam tanah, bentuk-bentuk fosfor tanah, dan ketersediaan fosfor (Pairunan, dkk, 1997).
Pada tanah Vertisol P tersedia adalah sangat tinggi pada Vertisol yang berkembang dari batuan basik tetapi rendah pada tanah  yang berkembang dari bahan vulkanis. Pada segi lain vertisol yang berkembang dari bahan induk marl atau napal, kandungan P total tersedia adalah rendah (Soepardi, 1979).
Vertisol adalah tanah yang memiliki KTK dan kejenuhan hara yang tinggi. Rekasi tanah bervariasi dengan asam lemah hingga alkaline lemah, nilai pH antara 6,0 sampai 8,0, pH tinggi (8,0 – 9,0) terjadi pada Vertisol dengan ESP yang tinggi dan Vertisol masam (pH 5,0 – 6,2) (Munir, 1996).
KTK tanah-tanah Vertisol umumnya sangat tinggi disbanding dengan tanah-tanah mineral lainnya. Hal ini disebabkan oleh tingginya kandungan liat yang terbungkus mineral Montmorillonit dengan muatan tetap yang tinggi. Kandungan bahan organik sungguhpun tidak selalu harus tinggi mempunyai KTK yang sangat tinggi. Katio-kation dapat tukar yang dominant adalah Ca dan Mg sdan pengaruhnya satu sama lain sangat berkaitan dengan asal tanah (Lopulisa, 2004).
Kejenuhan basa ynag tinggi, KTK yang tinggi, tekstur yang relative halus, permeabilitas yang rendah dan pH yang relative tinggi dan status hara yang tidak seimbang merupaka karakteristik Vertisol (Hardjowigeno, 1985).

J.       HITOSOL
Histosol (tanah organic) asal bahasa yunani histories artinya jaringan. Histosol sama halnya dengan tanah rawa, tanah organic dan gambut.
Histosol mempunyai kadar bahan organic sangat tinggi sampai kedalaman 80 cm (32 inches) kebanyakan adalah gambut (peat) yang tersusun atas sisa tanaman yang sedikit banyak terdekomposisi dan menyimpan air.
Jenis tanah Histosol merupakan tanah yang sangat kaya bahan organik keadaan kedalaman lebih dari 40 cm dari permukaan tanah. Umumnya tanah ini tergenang air dalam waktu lama sedangkan didaerah yang ada drainase atau dikeringkan ketebalan bahan organik akan mengalami penurunan (subsidence).
Bahan organik didalam tanah dibagi 3 macam berdasarkan tingkat kematangan yaitu fibrik, hemik dan saprik. Fibrik merupakan bahan organik yang tingkat kematangannya rendah sampai paling rendah (mentah) dimana bahan aslinya berupa sisa-sisa tumbuhan masih nampak jelas. Hemik mempunyai tingkat kematangan sedang sampai setengah matang, sedangkan sapri tingkat kematangan lanjut.
Dalam tingkat klasifikasi yang lebih rendah (Great Group) dijumpai tanah-tanah Trophemist dan Troposaprist. Penyebaran tanah ini berada pada daerah rawa belakangan dekat sungai, daerah yang dataran yang telah diusahakan sebagai areal perkebunan kelapa dan dibawah vegetasi Mangrove dan Nipah.
Secara umum definisi tanah gambut adalah:
“Tanah yang jenuh air dan tersusun dari bahan tanah organik, yaitu sisasisa tanaman dan jaringan tanaman yang melapuk dengan ketebalan lebih dari 50 cm. Dalam sistem klasifikasi baru (Taksonomi tanah), tanah gambut disebut sebagai Histosols (histos = jaringan ).”
Pada waktu lampau, kata yang umum digunakan untuk menerangkan tanah gambut adalah tanah rawang atau tanah merawang. Di wilayah yang memiliki empat musim, tanah gambut telah dikelompokan dengan lebih rinci. Padanan yang mengacu kepada tanah gambut tersebut adalah bog, fen, peatland atau moor.
ü  Potensi Luas Histosol di Riau dan Indonesia
Indonesia memiiiki lahan gambut yang sangat luas, yaitu sekitar 21 juta hektar atau lebih dari 10% luas daratan Indonesia. Lahan gambut adalah merupakan salah satu sumber daya alam yang sangat penting dan memainkan peranan penting dalam perekonomian negara, diantaranya berupa ketersedian berbagai produk hutan berupa kayu maupun non-kayu. Disamping itu, lahanb ambut juga memberikan berbagai jasa lingkungan yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat, diantaranya berupa pasokan air, pengendalian banjir serta berbagai manfaat lainnya. Hutan rawa gambut juga berperan sangat penting dalam hal penyimpanan karbon maupun sebagai pelabuhan bagi keanekaragaman hayati yang penting dan unik.
Menyusutnya luasan lahan gambut akan memberikan dampak sosial, ekonomi dan kesehatan yang dahsyat bagi penduduk Indonesia. Sebagai contoh, kebakaran hutan yang terjadi di lahan gambut tidak saja menimbulkan kerugian secara ekonomi akan tetapi juga telah menyebabkan ratusan ribu penduduk mengalami gangguan kesehatan pernapasan yang memerlukan penanganan yang seksama. Susutnya luasan lahan gambut atau berbagai kerusakan yang dialami juga akan menyebabkan berkurangnya fungsi penting mereka sebagai pemasok air, pengendali banjir serta pencegah intrusi air laut ke daratan.
Jika tak dilakukan langkah antisipasi pencegahan serta penanganan kerusakan dan hilangnya lahan gambut tersebut, maka bahaya dan kerugian yang ditimbulkan kemudian tidak hanya menerpa penduduk Indonesia saja, akan tetapi juga akan menimbulkan implikasi lingkungan dan sosial yang berskala regional bahkan global. Jika karbon yang terkandung dalam gambut kemudian dilepaskan maka akan secara siginifikan menambah kadar karbon di atmosfir. Tidak hanya berdampak secara langsung untuk manusia, kerusakan lahan gambut juga akan berakibat langsung terhadap kehidupan keanekaragaman hayati didalamnya, termasuk jenis-jenis penting, seperti Orang utan, sekitar 300 jenis ikan serta lebih dari 2.500 jenis tumbuhan (sekitar 20% diantaranya diketahui sebagai tanaman obat). Banyak diantara jenis-jenis tersebut yang diketahui sangat tergantung kepada dan hanya ditemukan di lahan gambut.




BAB III
PENUTUP
ü  Kesimpulan
energi matahari digunakan dalam proses henesis dan differensiasi tanah yang bersumber dari energi matahari. jumlah energi yang samoai ke permukaan bumi tergantung pada kondisi cuaca. energi ini akan mengakibatkan gerakan udara atau angin yang akan memicu proses penguapan. proses penguapan ini akan mengakibatkan terbentuknya awan dan terjadilah hujan. curah hujan adalah salah satu unsur yang berperan dalam pembentukan tanah.
menurut walker pembagian tanah di bagi 2 yaitu daerah humid dan arid
insolasi matahari mempunyai peran penting terhadap curah hujan dan temperatur yang merupakan 2 unsur penting pembentuk tanah
Curah hujan bekorelais erat dengan pembentukan tanah biomaass(bahan organik) tanah, karena air  merupakan komponene utama tetanaman maka kurangnya curah hujan akan menghambat pertumbuhan dan perkembangnnya.
Aktifitas pembentukan tanah (pelapukan)  akibat aktifitas iklim
1. pelapukan visik
2. pelapukan kimiawi
3. Pelapukan organik
4. Gerakan massa batuan (mass wasting)
Persebaran Dan Klasifikasi Menurut Peta Ordo  Tanah Sifat, Pentebaran Dan Penggunaan.
A.  ENTISOL                                     I.  VERTISOL
B. INCEPTISOL                                J.  HITOSOL
C. ARIDISOL
D. MOLLIASOL
E. SPODOSOL
F. ALFISOL
G. ULTISOL
H. OXISOL

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar